Sukses, sesuatu yang menurut saya harus dipahami dalam perspektif yang lebih luas. Kadang, orang memaknai sukses dalam ‘ruang’ yang sempit, betapa sukses yang digenggam seseorang, hanya dilihat seberapa banyak orang tersebut memiliki kekayaan, atau simbol-simbol prestise lain yang melekat pada diri orang itu. Kekeliruan yang terjadi di masyarakat,  karena tolok ukur sukses hanya dilihat dari cara pandang sesaat.

Contoh tersebut, bisa kita lihat pada momen – momen tertentu seperti lebaran, atau hari-hari besar lain dengan tradisi mudiknya. Mereka yang merantau ke kota-kota besar, tumpah ruah pulang ke desa dengan suka cita.

Disinilah, kita bisa melihat ‘penyelewengan’ makna sukses itu sendiri. Artinya, banyak diantaranya ‘pura-pura sukses’ agar di kampung halaman  mendapat stempel ‘orang sukses’. Tak sedikit yang berhutang agar bisa menyewa mobil keren, agar mengundang decak kagum sebagai orang sukses. Meski tidak semua berperilaku seperti itu, tapi kalau mau jujur, banyak prosentasenya.

Dalam setiap fase kehidupan yang kita jalani, adalah hal yang wajar jika kita memiliki beragam pengharapan. Kita banyak rezeki, maupun peningkatan materi.

Pada hakekatnya, Tuhan telah memberi jaminan kehidupan bagi setiap makhluknya. Oleh karenanya, rezeki yang digunakan sudah sepatutnya merupakan rezeki yang didapatkan dengan cara-cara yang benar. Dengan demikian, kita akan mampu memelihara kehidupan ini, tanpa harus keluar dari rel yang telah ditetapkan Tuhan.

Segala sesuatu di dunia ini, termasuk dalam urusan menjemput rezeki, memang tidak selalu mudah diperoleh, tidak semudah membalikkan telapak tangan, sebab kendala maupun kegagalan datang silih berganti. Sayangnya, manusia sering kali terburu dalam menjemput rezekinya. Naluri diabaikan, gaya hedonis,e pun tidak terelakkan. Akhirnya, berbagai cara yang salah dipersiapkan dengan apik sebagai jalan pintas, demi memenuhi kehendaknya.

Bagaimanapun bagusnya rencana yang dibuat, jika berpangkal pada kecurangan dan keserakahan, tidak akan bermuara pada kebahagiaan. Gantinya pasti, ada cercaan dan nestapa yang bukan hanya ditanggung oleh diri sendiri, melainkan juga kerabat, teman dan lingkungan yang turut merasakan akibatnya. Contoh perilaku koruptor.

Hal yang perlu diingat, Tuhan memiliki kuasa atas umat-NYA. Untuk itu, manusia tidak bisa memaksakan kehendaknya atas apapun, termasuk urusan rezeki. Sepatutnya manusia meyakini, bahwa rezeki yang dijemput dengan kerja keras dan doa, semata-mata anugerah dari Tuhan. Kesabaran dalam kerja keras, boleh jadi dianggap sebagai benih pahit, tetapi kelak siap dipanen di masa depan. Sabar dalam penantian dan doa, menjadi cermin keimanan manusia kepada Yang Maha Memberi Kehidupan, bagaimanapun nanti hasil akhirnya.

Bukan masalah berapa banyak yang diperoleh dari hasil kerja keras kita. Justru semakin banyak peluh yang menetes, dan semakin banyak doa yang dilantunkan, itulah kelak yang akan dibayar penuh berupa rezeki yang berkah.

Seandainya ditemui kegagalan, tentu kegagalan dalam kemuliaan dan itu  lebih utama dibandingkan dengan sebuah keberhasilan dalam kehinaan.

Apapun dan seberapapun anugerah yang Tuhan berikan, sudah sepatutnya kita syukuri. Sebab materi bukan satu-satunya tolok ukur kesuksesan hidup.

Di sinilah kearifan manusia diperlukan untuk memahami sebuah kesuksesan, hingga materi tidak lagi membutakan.

Penulis Titi Susanti ( Media Keuangan )

Editor D. Supriyanto Joko N