SUMENEP, Bupati Sumenep A. Busyro Karim dan wakil Bupati Ach. Fauzi, tadi siang, Kamis (05/04/2018) didemo sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Sumekar Raya ( Mahasurya ).

Mahasiswa pendemo yang berkostum pocong tersebut, mendatangi kantor Bupati Sumenep, di Jl. Dr. Cipto.

Mereka menuntut janji politik saat berkampanye. Selama dua tahun memimpin Sumenep Busyro dan Ach. Fauzi dinilai  telah gagal menunaikan janji-janjinya .

“ Sembilan program yang merupakan janji politik Bupati dan Wabup ternyata hanya formalitas tanpa ada perwujudan nyata. Sudah dua tahun menjabat, tetapi belum ada bukti nyata,” kata korlap aksi, Eddy Mufti, Kamis, (05/04/2018).

Sebagai simbol 9 kegagalan Bupati Busyro dan Wabup Ach. Fauzi, Mahasurya berunjuk rasa sebanyak sembilan orang. Mereka berorasi bergantian di depan kantor Bupati.

Pengunjuk rasa membawa poster berisi tuntutan diantaranya peningkatan profesionalitas dan inovasi birokrasi, optimalisiasi dan revitalisasi pasar tradisional, dan peningkatan kualitas pendidikan.

Terkait program optimalisiasi dan revitalisasi pasar tradisional, Mahasurya menilai Pemkab Sumenep tidak memiliki konsep yang jelas.

“ Kondisi pasar di tiap kecamatan masih terlihat kumuh dan jorok. Padahal program revitalisasi pasar tradisional ini, anggarannya cukup mencengangkan, yaitu sebesar Rp 13,5 milyar. Tetapi tidak ada bentuk konkret realisasi program itu. Lalu kemana anggaran sebesar itu?” ungkapnya.

Selain itu Mahasurya juga mengkritisi dan memberi catatan merah terhadap pelayanan Rumah Sakit Daerah dr. H. Moh. Anwar .

Menurut mereka yang diberikan rumah sakit tidak sesuai SOP, dan instalasi pembuangan air limbah tidak sesuai standar yang disyaratkan.

Usai berorasi pocong-pocong tersebut meminta bertemu Bupati atau Wakil Bupati guna menyampaikan aspirasi. Namun keinginan mereka tidak bisa terpenuhi mengingat Bupati dan Wakil Bupati sedang berada di luar untuk urusan dinas.

( Rus/Jok )