Sampang – Petajatim.id. Indonesia merupakan negeri yang terkenal dengan keanekaragaman kulinernya. Dan, masing-masing daerah di Nusantara ini, memiliki ciri dan cita rasa yang berbeda pula. Di Sampang –Madura misalnya. Di daerah penghasil garam terbesar di Indonesia ini, memiliki kuliner khas yang unik , dan berbeda dengan daerah lain. Namanya Dhun Adhun.    Walaupun banyak bermunculan kuliner modern, namun Dhun Adhun tetap mengisi tempat dan hati masyarakat Kabupaten Sampang Madura Jawa Timur.

Dhun Adhun menjadi salah satu kuliner khas Sampang, karena jenis makanan serupa tidak ada di daerah lain.  Dhun adhun, terdiri dari lontong atau ketupat dengan kuwah yang terbuat dari campuran santan dan bumbu lengkap seperti laos, ketumbar,merica,bawang merah dan bawang putih serta di taburi serondeng .

Konon ,kuliner ini sempat menjadi trend, bahkan masyarakat Sampang tidak merasa sarapan pagi tanpa Dhun Adhun.

Seiring perkembangan zaman dan maraknya kuliner modern yang bermunculan, Dhun Adhun hampir di lupakan. Namun bagi masyarakat Sampang, Dhun Adhun masih masih tetap melekat di hati.

Beberapa penjual yang fokus menjual Dhun Adhun dan mempunyai pelanggan tetap ada di jalan Permata, Terate, Hasyim As’ari, Wachid Hasyim dan Pasar Tradisional Rongtengah maupun Pasar Srimangunan.

Imah(50), penjual Dhun Adhun yang ada di jalan Terate, termasuk salah satu penjual yang memiliki banyak pelanggan . Setiap pagi usai sholat subuh imah, dengan dibantu oleh saudara dan keluarganya membuka dagangannya. Biasanya, sekitar pukul 07.00 wib dagangannya sudah ludes.

Menurut Imah, pelanggan maupun masyarakat membeli Dhun Adhun selain untuk sarapan pagi juga untuk konsumsi balita.

“Kadangkala saya kewalahan, karena selain menyediakan untuk pelanggan tetap, juga memenuhi pesanan masyarakat, khususnya pada acara-acara tertentu,” ujar Imah.

Di Kabupaten Sampang para penjual Dhun Adhun mempunyai kompisisi berbeda, ada yang memakai sayur buah labu maupun pepaya muda dan ada juga yang tidak memakai sayur.

Terlebih pasca Lebaran, Dhun Adhun banyak di buru masyarakat khususnya pendatang yang dulunya pernah merasakan nikmatnya Dhun Adhun. (D/Rosita)