Industri keuangan di tanah air semakin menghadapi tantangan seiring berkembangnya teknologi informasi. Digitalisasi layanan perbankan telah menjadi topik utama di seluruh dunia. Pada era ekonomi digital sekarang ini, sektor keuangan yang merupakan “jantung” transaksi, sangat perlu untuk cepat mengadopsi perubahan tersebut.

Jokowi Serukan Perbankan Konsolidasikan Mesin ATM

Sejak tahun 2015, Presiden RI telah berkali-kali menyerukan agar pihak perbankan menggabungkan ATM untuk dapat menghemat biaya operasional. Besaran biaya operasional tersebut terhitung Rp. 30 Triliun. Namun pada kenyataanya hal tersebut tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan.

Ada beberapa keberatan dalam menggabungkan mesin ATM seperti masalah keamanan, sistem monitoring CCTV terpusat, dan sebagainya. Seluruh issue tersebut harus di sentralisasi terlebih dahulu, atau harus disiapkan infrastrukturnya terlebih dahulu. Sebab, baik hardware maupun software yang digunakan oleh perbankan banyak berbeda-beda. Disinilah tantangan untuk mewujudkan seruan dari Presiden Jokowi.

Seperti pada diagram disamping, terlihat kompleksitas dalam mengkonsolidasikan sistem monitoring CCTV. Namun, saat ini sudah ada sebuah konsultan teknologi informasi di Indonesia yang telah berhasil melakukan hal tersebut.

Ini membuktikan bahwa ide dari Presiden Jokowi bukanlah suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Sementara itu, digitalisasi layanan perbankan merupakan ide menarik lainnya, namun akan lebih memerlukan waktu untuk dapat berjalan efektif.

Jika pesan dari Presiden Jokowi adalah melakukan penghematan, maka memang benar adanya dengan menggabungkan ATM menjadi satu akan dapat menghemat biaya operasional yang banyak.

Digitalisasi Layanan Perbankan

Digitalisasi layanan perbankan merupakan hal seputar transformasi digital (atau sering disebut dengan istilah “DX”). Untuk dapat melakukan transformasi digital, sebuah perusahaan harus melakukan transformasi infrastruktur teknologi informasi terlebih dahulu, selain strategi dan perencanaan.

Transformasi digital memiliki keuntungan dari dua sisi, baik pada pelaku bisnis, maupun bagi para konsumen. Kemudahan, kenyamanan dan kecepatan merupakan keuntungan dari transformasi digital. Selain itu, beberapa praktisi telah menemukan bahwa transformasi digital lebih besar manfaatnya bagi penghematan biaya operasional perusahaan.

Era internet banking dan mobile banking sebetulnya sudah digunakan di Indonesia selama kurun 10 tahun terakhir ini. Dengan teknologi fintech, lebih banyak hal yang dapat dilakukan, semisal untuk penjualan sekalipun. Sebuah perbankan dapat memiliki teknologi fintech dan menghubungkannya pada beberapa marketplace dan toko online. Dengan demikian maka sasarannya akan jauh lebih luas lagi.

Teknologi perbankan ini disebut sebagai ‘teknologi fintech‘. Wujud dari digitalisasi perbankan adalah penggunaan aplikasi mobile untuk transaksi keuangan. Sehingga para nasabah tidak perlu lagi ke bank atau ke ATM untuk melakukan transaksi keuangan.

Aplikasi fintech ini juga dapat dipakai untuk membayar hal-hal seperti pembelian bakso oleh pedagang keliling. Cukup dengan menggunakan QR Code maka pembayaran terkirim dan diterima oleh penjual bakso.

Selain itu, fintech juga dapat diterapkan untuk pembelian tiket kereta dan busway dan banyak lagi. Hal ini sangat sejalan dengan konsep SmartCity di Indonesia. Sehingga, harus dipersiapkan dari sekarang ini. Fintech akan membawa banyak manfaat dan kemudahan.

Dari sisi back office, pihak perbankan dapat mulai mengurangi keberadaan ATM dengan memperhatikan tingkat penggunaan dari waktu ke waktu. Setelah itu, perbankan dapat mulai mengurangi kantor cabang mereka. Disinilah terjadinya penghematan besar tersebut. Oleh karena itu, dengan digitalisasi layanan perbankan, maka penghematan biaya operasional akan lebih besar lagi.

Edukasi Layanan Perbankan Digital

Namun, digitalisasi layanan perbankan akan memerlukan waktu yang lebih lama. Selain untuk mempersiapkan infrastruktur di sisi pelaku perbankan, edukasi masyarakat untuk menjadi ‘cashless‘ juga memerlukan waktu tahunan. Oleh karena itu, jika tidak dilakukan sekarang juga, maka akan semakin lama penghematan tersebut dapat tercapai.

Kebijakan pemerintah sudah sangat mendukung untuk teknologi digital. Hanya saja pada praktiknya, para pelaksana masih ‘cegukan’ dalam menjalankan instruksi tersebut. Pemerintah dapat mendorong kampanye penggunaan teknologi fintech secara nasional. Ini dapat mempercepat adopsi perubahan teknologi informasi ke seluruh pelosok nusantara.

Untuk meningkatkan kesadaran pengguna, yang dapat dilakukan antara lain adalah:

  • Menyampaikan kegunaan dan manfaat aplikasi fintech
  • Mengenali hambatan personal dalam menggunakan aplikasi fintech
  • Memberikan edukasi seputar hambatan tersebut
  • Meningkatkan keterlibatan masyarakat seputar penggunaan aplikasi fintech.

Adapun target segment yang dapat dibidik adalah mereka yang termasuk ‘millenials’ atau yang lahir pada era tahun 90 ke atas. Golongan millenials sudah akrab menggunakan gadget sejak dari kecil, maka aplikasi fintech bukan merupakan hambatan bagi mereka. Selanjutnya adalah sektor UKM, dengan maraknya pelaku UKM yang menerima pembayaran menggunakan aplikasi fintech, maka ini dapat mendorong penggunaan ‘cashless’ dari waktu ke waktu.

Setelah terbentuk era cashless, maka digitalisasi layanan perbankan akan menemui puncak penghematan biaya operasional. Inilah yang harus dicapai dan membutuhkan dukungan seluruh elemen.

Mempercepat Era Cashless di Indonesia

Selain edukasi masarakat dan dorongan dari pemerintah. Otoritas jasa keuangan juga harus dapat memberikan dukungan seputar hal ini dengan tepat. Saat ini sudah ada ratusan aplikasi fintech di Indonesia, dan menunggu pihak perbankan membuka diri terhadap perusahaan satartup digital.

Setelah perbankan dan perusahaan fintech melebur, selanjutnya akan membutuhkan kolaborasi antar aplikasi fintech. Dimana seluruh aplikasi fintech dapat terhubung dan berkomunikasi satu sama lain melalui antar muka yang aman. Sebab, jika tidak diatur untuk berkolaborasi, maka perlambatan akan terjadi.

Dari sisi keunggulan kompetitif, perusahaan fintech yang paling cepat berkolaborasi dengan berbagai bank dan aplikasi fintech lainnya maka akan semakin dipilih oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan fungsi dan kegunaan, atau felksibilitas.

Kita dapat bayangkan rasa frustrasi pengguna jika saat hendak melakukan transaksi akan tetapi aplikasi fintech tersebut tidak terdukung oleh si penjual. Ini sifatnya sama seperti ATM Bersama, atau penggunaan kartu debit / kredit.

Dengan semakin cepatnya era cashless berkembang di Indonesia, maka penghematan dari digitalisasi layanan perbankan akan semakin terasa dan ini akan memberikan efisiensi hingga tingkat nasional. (Flying Egale/Image Credit: Pexels)

Ulasan Perusahaan Perbankan dan Fintech

Perusahaan anda minat dengan ulasan dalam bentuk konten berkualitas seperti ini ? Silahkan hubungi bagian iklan petajatim.id