Jakarta, Inovasi.web.id. Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto yang saat ini telah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus korupsi E- KTP, berpeluang lepas kembali dari statusnya sebagai tersangka pada gugatan sidang pra peradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Penilaian tersebut disampaikan Laola Esther, anggota Divisi Hukum Indonesian Coruption Watch (ICW), di Jakarta, Senin 27/11/2017.

Laola menilai rekam jejak Kusno sebagai hakim  yang akan menyidangkan gugatan pra peradilan yang diajukan Setya Novanto sangat minim keberpihakannya terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia.

“ Kami berpandangan, dari sekian rekam jejak yang dimiliki yang bersangkutan itu minim sekali keberpihakannya terhadap pemberantasan korupsi ,” kata Laola.

Laola meragukan kredibilitas Kusno, merujuk pada Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang ada pada situs KPK, hakim Kusno tercatat memiliki kekayaan saat menjadi hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2011, dengan total harta kekayaannya sebesar Rp 1.5 miliar.

Lima tahun setelahnya, yaitu pada tahun 2016, menurut LHKPN jumlah harta kekayaan Kusno melonjak menjadi Rp 4,2 milliar. Lonjakan yang cukup signifikan ini menurut Laola, harus ditelusuri asal usulnya.

Dalam perjalanan karirnya sebagai hakim, keberpihakan Kusno terhadap pemberantasan korupsi pun perlu dipertanyakan. Beberapa kasus korupsi yang ditanganinya, beberapa terdakwa  lepas dari jeratan hukum, diantaranya ia membebaskan empat terdakwa kasus korupsi, saat ia menjadi hakim di Pengadilan Negeri Pontianak.

Yang lebih mengagetkan lagi, pada 13 April 2017, Kusno hanya memvonis ringan terhadap Zulfadhli, anggota DPR yang tersangkut perkara korupsi dana bansos di Provinsi Kalimantan Barat, yang merugikan keuangan negara hingga Rp 15 miliar.

Dari catatan tersebut, menurut Laola, adalah hal wajar jika publik meragukan komitmen Kusno terhadap pemberantasan korupsi.

Terkait banyaknya pihak yang meragukan kredibilitas Kusno sebagai hakim yang akan menyidangkan Setnov, Ketua KPK Agus Raharjo menegaskan, bahwa pihaknya akan siap menghadapinya.

KPK, kata Agus, akan mengawal kasus tersebut dengan sebaik mungkin.

“ Akan kami hadapi,” katanya.

Menurut Agus, meski tidak ada persiapan secara khusus, KPK sudah memiliki kartu truf dan strategi untuk menggiring Setnov mendekam dibalik jeruji besi KPK.

“ Strateginya tidak mungkin kami buka,” tegas Agus.

( Jok )