Seringnya kita mendengar seseorang bicara “jangan stres, nanti cepat tua loh…” atau ketika kita menjenguk orang sakit kita memberi pesan “jangan stres ya, biar cepat sembuh”.  Benarkah stres menjadi timbulnya penyebab penyakit? Apakah stres berhubungan dengan proses penuaan?

Oleh karena itu, yuk kita telusuri lebih lanjut stereotip yang beredar mengenai stres.

Sistem Kekebalan Tubuh dan Stres

Sistem kekebalan tubuh dapat menjaga kesehatan kita dengan cara mengenali dan menghancurkan materi-materi asing seperti bakteri, virus dan tumor. Karena sistem kekebalan tubuh ini mengandung miliaran sel darah putih dan efektivitasnya untuk menghancurkan virus atau bakteri asing yang berkaitan dengan level stres.

Ketika seseorang berada dalam kondisi stres, virus atau bakteri cenderung memperbanyak diri dan menyebabkan penyakit. Secara otomatis sel darah putih kita akan mencoba melawan para virus atau bakteri dengan cara memperbanyak diri.

Oleh karena itu, jika kita atau keluarga kita terkena infeksi, seringkali dokter menjelaskan dari hasil tes dengan memeriksa tingkat sel darah putih. Jika sel darah putih kita cenderung meningkat atau lebih tinggi dari kisaran normal artinya kita terkena infeksi. Sel darah putih yang meningkat tersebut sebagai cara mereka merespon virus atau bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

Lalu, bagaimana dengan proses penuaan. Apakah benar stereotip yang beredar di masyarakat mengenai hubungan stres dan proses penuaan?

Stres dan Proses Penuaan

Ada beberapa teori yang membahas mengenai proses penuaan – salah satunya Teori Stres Hormonal (hormonal stress theory). Teori ini menyatakan bahwa proses penuaan di dalam sistem hormonal tubuh dapat menurunkan daya tahan terhadap stres dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit.

Secara normal, ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan merespon dengan cara melepaskan hormon-hormon tertentu. Terlebih ketika seseorang bertambah tua, tingginya level hormon yang dirangsang oleh stres ini akan menetap lebih lama dibandingkan ketika seseorang masih muda.

Lalu, tingginya level hormon yang menetap lebih lama akibat stres ini, berkaitan dengan meningkatnya resiko terhadap berbagai penyakit termasuk penyakit kardiovaskuler, kanker, diabetes, dan hipertensi.

Selain itu, ada sebuah sel yang bernama Natural Killer Cells atau NK atau disebut juga sebagai sel pembunuh alami. Sel NK ini merupakan sel pembunuh alami yang mampu melawan virus atau bakteri dalam tubuh kita. Sel NK ini kemungkinan besar muncul ketika kita dalam kondisi stres rendah yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh kita meningkat. Sebaliknya, sel NK cenderung tidak muncul ketika kondisi tubuh kita dalam keadaan stres.

Beberapa waktu lalu, saya ikut serta dalam sebuah program yang dinamakan LET (dapat dibaca disini). Dalam program tersebut, Prof. DR. Diana Harding memberikan paparan mengenai endurance dalam dunia karyawan. Ada salah satu pesan yang saya kutip dari Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung itu “kita harus selalu bahagia kapan pun, dimana pun. Jika kita bahagia, maka akan terefleksi dari perilaku kita dimanapun kita berada”

Selanjutnya, Baca Juga: Apa Itu Leadership Endurance Test (LET)?

Dari pesan beliau, bisa kita tarik benang merah bahwa manusia harus selalu berusaha untuk bahagia dimanapun dan kapanpun. Karena jika kita bahagia, kita jauh dari stres, maka perilaku kita akan menjadi refleksi dari kebahagian kita yang selanjutnya akan mempengaruhi lingkungan kita. Dan dapat kita tarik kesimpulan bahwa benar stres berhubungan dengan penyakit dan proses penuaan.

Oleh karena itu, be happy be healthy and of course keep endurance…

Penulis:

Wistiadola Septiani SE, MPsi.T

  • Dosen Psikologi Perkembangan
  • Asesor LET
  • Happy mother and wife
Referensi
  • Papalia, D.E., & Feldman R.D. (2012). Experience Human Development. 12nd Edition. New York: McGraw Hill.
  • Santrock, John W. (2011). Life-span Development. 13th Edition. New York: McGraw-Hill