Surabaya, petajatim.id. Industri kerajinan di Jawa Timur terus berkembang pesat. Pesatnya pertumbuhan, dan kreatifitas para pengrajin UMKM tersebut, mendapat apresiasi positif dari Ketua Dekranasda Jawa Timur, Hj. Nina Soekarwo.

Industri kerajinan seperti batik, bordir, handycraft, sangat diminati pasar nasional maupun manca negara. Menurut Hj. Nina Karwo, perlu ada inovasi maupun strategi agar industri tersebut memiliki daya saing.

“ Beberapa perajin furniture, Alhamdulillah sudah mampu mengekspor produk unggulannya. Ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi Dekranasda Jawa Timur,” ujar Budhe Karwo, sapaan akrabnya, saat meninjau stand pameran kerajinan daerah Jatim Fair 2017, di Grand City, Surabaya, Sabtu,  14/10/2017.

Dalam expo Jatim Fair 2017, Dekranasda Jawa Timur, memfasilitasi 115 perajin dalam memasarkan produk unggulannya.

Budhe Karwo menilai, bahwa produk kerajinan seperti batik tulis, tenun, kerajinan tangan, hingga furniture, kualitasnya semakin meningkat. Namun untuk kerajinan dari kulit  dan handmade, perlu ditingkatkan kualitasnya, terutama pada kreatifitas model dan design.

Agar produk kerajinan memiliki daya saing, Budhe Karwo berharap agar UMKM, khususnya perajin, untuk mendaftarkan usahanya ke Badan Standarisasi Nasional (BSN), supaya memperoleh sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI), sebagai bukti bahwa produknya memiliki kualitas dan mutu.

Selain mendaftarkan ke BSN, untuk memperkuat daya saing, Budhe Karwo meminta UMKM juga mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas produk-produknya melalui Disperindag, agar selanjutnya bisa diteruskan ke Dirjen HAKI, Kemenkumham, agar produk UMKM tidak dicaplok dan diklaim sebagai milik ataupun karya milik daerah lain.

Seoerti diketahui, Pameran Jatim Fair 2017, berlangsung dari tanggal 5 hingga 15 Oktober 2017, diikuti 560 booth kepesertaan. Pada pameran ini menampilkan produk unggulan daerah berorientasi ekspor dan impor, seperti kerajinan, garmen, maupun aksesories hasil produksi UMKM dan Koperasi.

( Rud/Jok )