Kita lahir telanjang tanpa sehelai benangpun yang kita bawa, bahkan kita tidak bisa bicara, mendengar atau melihat. Lalu Allah hadirkan fasilitas kehidupan berupa mata yang bisa melihat, telinga yang dapat mendengar dan mulut yang mampu berbicara.

Allah sediakan lahan kehidupan untuk kita, baik yang di darat maupun di laut. Seluruh isi langit dan bumi pun Allah ciptakan untuk menopang hidup kita agar melakukan pengabdian secara total.

Daratan yang terbentang luas, Allah isi dengan aneka ragam rezeki, ada buah-buahan, sayur mayur, padi, gandum dan lain sebagianya.

IlmuNya Allah ilhamkan kepada kita untuk dapat memahami mana yang bisa dimakan dan yang tidak, mana yang bernilai manfaat dan madlarat, mana yang lebih dan yang kurang. Kemudian diberiNya kita kemampuan untuk mengelolanya menjadi sesuatu yang bisa berguna.

Bukan hanya itu, Dia (Allah) lah yang merawat, menumbuhkan dan menyebabkan apapun yang kita tanam menjadi hidup.

DisiramiNya bumi yang tandus dengan air hujan. Matahari diperintahkanNya untuk mengeluarkan cahaya yang bermanfaat buat kehidupan, Dia jadikan manzilah dan musim agar kita dapat membedakan apa yang baik dan yang buruk untuk ditanam pada waktu itu.

Sungguh sempurna semua yang Allah siapkan, Lalu kenapa kita menjadi pembangkang sejati? Yang justru menggunakan segala potensi yang Allah berikan untuk melakukan kedurhakaan padaNya…

Apakah manusia mengira bahwa kehidupan yang dijalaninya saat ini adalah karya mereka sendiri? Atau menyangka bahwa ilmu, kekayaan, pangkat, jabatan serta anak dan istri adalah buah dari usahanya?

Pernahkah kita memikirkan bagaimana makanan, minuman serta semua asupan gizi baik itu protein, kalsium, vitamin dan sebagainya yang masuk ke tubuh, mampu menjadikan tubuh yang semula bayi kemudian perlahan tumbuh,besar hingga dewasa?

Siapakah yang menjadikan tubuh yang ada inimenjadi besar dan meninggi? Apakah makan dan minum yang masuk ketubuh kita setiap hari atau Allah sang Maha Pencipta segala sesuatu-lah  yang mengubah semuanya?

Siapa juga yang menjadikan otak dengan segala kelebihannya, yang setiap bagian memiliki fungsi dan peran masing-masing? Apakah sekolah atau buku yang menyebabkan akal dapat berfikir tentang segala sesuatu?

Siapa juga yang menjadikan otak terbagi menjadi dua, kanan dan kiri, dengan fungsinya yang berbeda?

Lalu, siapakah yang menyebabkan otak dapat melakukan proses dari setiap input yang masuk melalui indrawi manusia dan mentransfernya kesemua bagian tubuh sehingga semua organ yang ada bergerak dan dapat melakukan tugasnya masing-masing dengan sempurna?

Coba kita bayangkan, siapakah yang menjadikan suara yang keluar dari mulut dapat difahami dan kemudian di sebut sebagai bahasa?

Berbentuk apakah huruf-huruf yang keluar dari suara kita, lalu kenapa juga setiap Negara dan Daerah memiliki bahasa yang berbeda-beda, siapakah yang mengajari manusia untuk dapat melakukan semua itu?

Kenapa juga dari tanaman yang ditanam ditanah yang satu, disirami dengan air yang sama, namun dapat menghasilkan buah atau sayuran yang berbeda?

Hebatnya lagi, kenapa yang dikandung oleh buah dan sayuran tersebut memiliki fungsi dan komposisi yang berbeda pula, baik dari bentuk, warna, tekstur,  maupun nilai gizi yang ada didalamnya, padahal ia tumbuh dari lahan yang sama?

Kalau jawabannya sudah jelas, bahwa Allah-lah yang menciptakan, menghidupkan, menjaga, serta memberikan semua untuk mahluknya yang bernama manusia, lalu Kapan kita mau kembali untuk berserah diri kepada Allah SWT yang mengatur segala sesuatu dengan mekanisme yang sempurna?

Dunia ini sementara, sikaya atau si miskin, professor maupun mahasiswa, pejabat atau pengangguran, presiden dan si tukang ngamen, semua akan mati.

Namun kenapa kebanyakan manusia disibukkan oleh sesuatu yang akan ditinggalkannya, sementara mereka lalai mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat yang abadi?

Bukankah harta, tahta, wanita dan isi dunia ini tidak akan ada yang disertakan pada saat kain kafan membungkus badan, lalu jenazah yang terbujur kaku itu dibenamkan ke dalam lobang tanah yang begitu sempit. saat itu apa yang bisa kita perbuat?

Kemana mobil mewah yang dulu begitu dibanggakan? Dimana rumah, uang, anak dan istri atau suami serta orang-orang yang dulu mengatakan cinta dan sayang, saat si penggali kubur perlahan mulai menimbunkan tanahnya dimakam kita?

Itulah gambaran dunia, kesenangan sesaat yang melenakan kita dari mengingat Allah SWT Si pemiliknya.

Dunia ini bukan tujuan, ia hanya terminal sementara bagi kita untuk mengumpulkan bekal bagi perjalanan yang lebih panjang,’Addun-yaa mazro’atul akhirah’ dunia adalah ladang perbekalan bagi negeri akhirat, dan bekal itu adalah taqwa “berberkallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”

Terlihat para jama’ah meneteskan air mata mendengarkan muhasabah yang disampaikan ustadz Hanif.

“Masya Allah!! Kita memang telah tertipu selama ini!” ujar Mang Adang pelan, “Iya mang!! Benar apa yang disampaikan ustadz, gak ada satupun yang kita cari selama ini bakalan ikut ketika kita mati!!” sahut Roni sembari menghela nafasnya. “hah, siapa nyang mau mati mang?” samber Bang toing yang segera disambut pelototan kesal Mang Adang dan Roni, “ssssssssst…”

“Jama’ah yang dicintai Allah!! marimulai berbenah, bertaubat dan kembali menata kehidupan  dengan iman dan ibadah, jangan risau memikirkan dunia, tapi risaulah memikirkan dengan amal apa kita akan datang menghadap Allah SWT!” ustadz Hanif melanjutkan tausyiahnya.

“Maaf  tadz!! Ana mau Tanya!” . “Oh ya Kang Asep, silakan!”. Ieu tadz, sekarang ini teh marak sekali orang ingin kaya dengan cara instant, tidak peduli dengan halal dan haram, yang penting ia kaya. Ada yang terang-terangan ngerampok, ada yang sembunyi-sembunyi korupsi, jadi ijon (rentenir), atau ikut-ikutan jadi artis, seperti yang di telivisi itu. nah, menurut ustadz sendiri kumaha?”

“Subhanallah!! Memang sekarang ini banyak sekali yang menghalalkan segala cara demi memenuhi keinginannya, tingkat kemaksiatan juga semakin tinggi, tayangan-tayangan di TV sedikit sekali yang punya nilai pendidikan kepada masyarakat, yang dibuat justru hal-hal yang mengajak masyarakat untuk semakin jauh dari nilai-nilai agama. kita memang harus prihatin akan hal itu!” jelas ustadz Hanif.

“Tapi prihatin saja tidak cukup, kita semua  dituntut untuk mengubahnya dengan bijaksana, gak boleh asal marah tanpa solusi. Umat Islam harus sadar bahwa kita tidak bisa membendung kemajuan zaman, tetapi justru harus mampu memanfaatkan kemajuan zaman ini untuk berdakwah. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, anak-anakdan masyarakat terkecil dilingkungan kita!” lanjut ustadz Hanif menjelaskan.

“Tapi tadz, bagaimana jika anak-anak pada gak bisa di omongin?” giliran H. Dul Kamid yang bertanya.

“Ya didoain, Pak Haji sudah belum mendo’akan anak-anaknya dimalam hari secara khusus?’ bukankah yang punya anak kita adalah Allah? Selaku orang tua, jika kita memohon penjagaan Allah terhadap mereka, niscaya Allah akan menjaganya.” Jawab ustadz Hanif

“Seperti Nabiallah Ibrahim yang berdo’a untuk anak keturunannya, maka Allah jadikan anak keturunannya orang-orang yang saleh! Jangan menyalahkan mereka, jika nyatanya kita juga tidak pernah serius mendo’akannya!!”ustadz Hanif menambahkannasihatnya dengan penuh kesungguhan.

“Bang To’ing nih contohnya pak haji, kalo dulu-dulunya kagak dido’ain sama nyak babenya, tau dah bakal jadi apa sekarang!” sindir ustadz Hanif sambil melirik bang To’ing yang setelah dapat pelototan tadi, menjadi diam seribu bahasa tundukkan kepala sedalam-dalamnya, entah sedang berusaha memahami, menghayati atau lagi ngelamunin yang enggak-enggak.

“Nyindir, nyindir……!! jawab bang To’ing lesu dengan muka memerah, disambut tawa simpul para jamaah.

“Masya Allah, jenengan benar tadz!! Kenapa juga saya gak serahin saja semua urusan anak-anak sama Allah SWT!? Pasti beres kan? Makasih tadz ya!!” ujar H. Dul Kamid terlihat lega.

Dibawah pohon beringin tidak jauh dari musholla, Kholid mengelus dadanya, ada setitik air menggenang di pelupuk matanya, “Allahumaghfirli waliwaalidayya…. Maafin Kholid Pa’e, selama ini sudah banyak mengecewakan bapak dan ibu, ternyata kalian betul-betul sayang sama aku!!” do’a Kholid dengan serius, rupanya sedari tadi ia betul-betul menyimak apa yang disampaikan oleh ustadz Hanif, tanpa terlewat satu kalimatpun.

Semula, ia sengaja agak lama duduk di dekat-dekat musholla, hanya ingin menunggu ustadz Hanif selesai pengajian, untuk minta amalan agar lulus kontes dangdut yang mau diikutinya.

tapi kini ia menyadari bahwa apa yang ingin diraihnya, sebenarnya hanyalah kesenangan sesaatyang akan menyebabkan ia sengsara selamanya, kelak di negeri yang tidak lagi sementara. Memang benar ternyata DUNIA ITU MENIPU !? Cinta Dunia adalah Sumber dari Kebinasaan ( Al-Hadis)

(Rd. Ahmad/Joko)