SURABAYA, Petajatim.id. Provinsi Jawa Timur oleh Pemerintah dikategorikan masuk dalam kejadian luar biasa difteri. Hal tersebut dikatakan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Muhammad Subuh.

Sepanjang 2017 ini, di wilayah Jawa Timur terdapat  319 kasus difteri, dan 12 diantaranya meninggal dunia.

Dokter Spesialis Anak, dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo, Surabaya, Dr. Agus Hariyanto SpA(k) menduga, masih tingginya kasus penyakit difteri tersebut, diakibatkan masyarakat masih antipati terhadap vaksinasi dan menganggap vaksinasi itu haram, khususnya di Pasuruan dan Tapalkuda.

“ Di Jatim kenapa masih tinggi, karena banyak yang tidak mau divaksinasi. Ada yang bilang mengandung babi itu tidak betul. Padahal vaksinasi sejak dini, itu sebagai kekebalan tubuh dan modal dasar pencegahan difteri,” Ungkap Dr. Agus Hariyanto, Kamis, 08/12/2017.

Menurut Ketua Pusat Pelayanan Kembar Siam Terpadu RSU dr. Soetomo Surabaya ini, sebenarnya pencegahan difteri telah dilakukan Pemerintah, seperti melalui Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) pada bulan Februari dan Agustus.

Selain itu, lanjut DR. Agus, Puskesmas juga telah menggratiskan vaksin, namun sangat disayangkan masyarakatnya tidak mendukung, sehingga upaya pemberantasan difteri tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.

Mensikapi persoalan ini, Ia menyarankan kepada Pemerintah, agar lebih menggencarkan vaksinasi melalui kartu, artinya setiap siswa harus dapat menunjukkan bukti vaksinasi.

“ Pencegahan lainnya, kartu vaksinasi harus dimiliki oleh anak Indonesia, terutama di sekolah. Sehingga jika wali murid yang tidak dapat memperlihatkan kartu vaksinasi, bisa langsung dilakukan tindakan vaksinasi dengan melibatkan Puskesmas terdekat,” terangnya.

Penyakit difteri, saat ini menyerang hampir di seluruh daerah di Indonesia, termasuk di Provinsi Jawa Timur. Penyakit difteri timbul karena bakteri yang bersumber dari corynebacterium diphtheriane, yang dapat menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan (pernapasan atas), tergolong infesi dan penyakit sangat menular yang berpotensi menyebabkan kematian.

Penyebab Difeteri

Dilansir dari Alo Dokter, difteri disebabkan oleh corynebacterium diphtheriane. Penyebaran penyakit ini tergolong mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada beberapa cara penularan penyakit ini, yang perlu diwaspadai. Diantaranya :

  1. Terhirup percikan ludah penderita di udara, saat penderita bersin atau batuk. Cara penularan seperti ini sangat umum terjadi.
  2. Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, misalnya mainan atau handuk.
  3. Sentuhan langsung pada luka (borok) akibat difteri pada kulit penderita. Penularan ini umumnya, terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Pada prosesnya, bakteri tersebut akan menghasilkan racun yang membunuh sel sel sehat dalam tenggorokan, sehingga mengakibatkan sel mati. Sel sel mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Selain itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Gejala Difteri

Difteri memiliki masa inkubasi dalam rentang waktu sejak bakteri masuk ke dalam tubuh sampai timbul gejala antara 2 hingga 5 hari. Adapun, gejala penyakit ini diantaranya :

  1. Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  2. Demam dan menggigil.
  3. Sakit tenggorokan dan suara serak.
  4. Sulit bernafas atau nafas yang cepat.
  5. Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  6. Lemas dan lelah.
  7. Awalnya cair, tapi lama kelamaan menjadi kental dan kadang bercampur darah.

Selain itu, difteri dapat menyerang kulit sehingga menimbulkan borok (Ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Pencegahan Difteri Melalui Vaksinasi

Langkah pencegahan penyakit difteri yang paling efektif adalah melalui vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

Bila mengalami gejala gejala tersebut di atas, disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter atau puskesmas, untuk dilakukan pencegahan agar tidak menimbulkan hal hal yang tidak diinginkan.

( Rus/Jok )