SURABAYA, Petajatim.id. Pertumbuhan teknologi digital dewasa ini  bisa dimanfaatkan oleh kalangan industri untuk memperluas pasar.

Hal ini sejalan dengan pertumbuhan industri di tanah air, khususnya di Jawa Timur, yang terus

mengalami peningkatan dan berkinerja bagus.  Rasa optimis tersebut disampaikan sejumlah pengusaha di Jatim, namun  ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi, salah satu diantaranya adalah keberadaan e-commerce.

Di satu sisi, keberadaan e-commerce mempermudah konsumen untuk mendapatkan produk yang diinginkan. Namun, derasnya arus barang impor yang masuk, menjadi tantangan tersendiri bagi keberadaan industri domestik. Insentif fiskal dan penguatan produk dalam negeri merupakan solusi.

Salah satu dampak dari pesatnya pertumbuhan e-commerce, adalah mudahnya produk asing masuk, dan apabila tidak disikapi dengan cerdas, akan menjadi pertanda buruk terpuruknya produksi dalam negeri.

Untuk itu, pelaku industri, harus bisa memanfaatkan e-commerce untuk memperluas pasar, tentunya harus diimbangi dengan berbagai inovasi agar produksi dalam negeri mampu bersaing.

“ E-commerce akan membuat kita mudah diserang oleh produk asing, tapi di sisi lain, akan membuka pasar yang lebih luas. Itu yang harus dimanfaatkan,” ujar Ketua Forum Entrepreneur Indonesia (Foreindo) Jawa Timur, Prihandoyo, Rabu 7 Januari 2018, di Surabaya.

Prihandoyo mengatakan, strategi yang paling cepat adalah memberikan insentif fiskal kepada pengusaha domestik, khususnya untuk pajak pertambahan nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh). Kebijakan pemerintah Pusat terkait penguatan untuk pengusaha domestik harus diikuti oleh pemerintah daerah.

“ Karena sebenarnya, selama ini permasalahan terbesar ada di daerah, khususnya yang menyangkut izin dan regulasi,” ujarnya.

Ia beranggapan, dengan adanya e-commerce Pemerintah harus memanfaatkannya untuk mendorong industri-industri lokal untuk berinovasi .

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia Ikhsan Ingratubun mengatakan, keberpihakan pemerintah dalam mempromosikan produk dalam negeri masih sangat kurang.

Ikhsan berharap Pemerintah konsisten untuk menggarap produk dalam negeri dan mempromosikannya, agar produk impor tidak semakin merajalela dan memberangus produk-produk dalam negeri, khususnya hasil produksi pelaku usaha UMKM.

“ Jika produk Indonesia ingin menjadi tuan rumah di negeri sendiri, Pemerintah harus bertindak cepat untuk memberikan akses pemasaran. Salah satunya dengan mempromosikan secara serius produk Indonesia. Selain itu juga penting artinya memberi akses permodalan, serta memberi pengetahuan kemasan yang bertaraf internasional,” paparnya.

Pendapat lain disampaikan pengamat ekonomi Said Didu. Said mengungkapkan, jika e-commerce terus menerus dibanjiri produk asing, kondisi perekonomian Indonesia akan terancam.

Menurut mantan Staf Ahli Menteri ESDM ini, antara Indonesia dengan luar negeri sangat berbeda. Kalau di luar negeri, ketika e-commerce masuk, negara mereka sudah siap dengan produk lokal dan segala sistem logistik distribusinya.

Said beranggapan, e-commerce bukan satu-satunya solusi ekonomi, jika di sisi lain bisa mematikan industri dalam negeri.

Pengembangan teknologi digital, kata Said, harus dibarengi upaya Pemerintah untuk penguatan produk lokal. Sebab, kemajuan e-commerce justru harus memacu industri lokal untuk semakin berkualitas dan efisien.

 

( Jok)