Hari minggu, tak banyak kegiatan yang saya lakukan. Di tengah cengkerama dengan cucu saya, sahabat lama saya tiba-tiba datang, dan berkeluh kesah tentang kebangkrutan usahanya. Air matanya tumpah, menyapu wajahnya yang mulai tampak keriput. Kegalauannya, tentang anaknya yang kuliah di luar kota, juga kesedihannya tentang rumahnya yang sebentar lagi akan disita. Sebagai sahabat lama, saya mencoba menjadi pendengar yang baik, atas penggalan-penggalan kalimat yang dituturkan terbata-bata.

Apa yang diungkapkan oleh sahabat saya, adalah ilustrasi hidup yang juga dialami oleh orang kebanyakan. Kehidupan yang semakin sulit harus disikapi dengan bijaksana oleh setiap insan. Ragam kesulitan biasanya bermuara pada masalah ekonomi. Adapun kesulitan saat mendidik anak-anak, membina istri, meningkatkan keshalehan suami adalah sesuatu yang merupakan bagian dari kesulitan tersebut.

Saya pun mengalami hal yang tak jauh beda dengan apa yang dialami sahabat saya, bahkan dibumbui oleh fitnah keji yang memporak porandakan hubungan dengan orang dekat saya, namun saya mencoba memotret lantas mensikapinya dalam ruang perenungan yang mengantarkan saya pada makna perjalanan hidup itu sendiri.

Akibat dari kesulitan tersebut, bagi yang tidak beriman tentu menimbulkan banyak mudharat dan maksiat.  Hampir setiap hari ada saja di sekitar kita, kejadian bunuh diri, suami membunuh istri, istri memutilasi suami.  Hal tersebut merupakan efek dari himpitan hidup yang kian berat. Tanpa iman, kesulitan tersebut justru membawanya ke jurang kesulitan. Di dunia menderita, di akhirat akan sengsara..

Akan tetapi, sungguh indah hidup orang beriman. Saat susah dia tafakuri sebagai sebuah ujian hidup dari Allah SWT. Apakah tetap beriman atau kufur. Bukankah Allah SWT sudah mengingatkan kita dalam Qur’an surah al-Ankabuut ayat 2, “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji.’”Jangankan orang beriman, orang kafir pun tidak luput dari terpaan masalah. Hanya saja, orang beriman yang diuji akan mendapat berkah bila sabar dan menggantungkan hidupnya hanya kepada Allah SWT, tawakal setelah ikhtiar.

Mensikapi persoalan-persoalan hidup tentu tak cukup hanya berbekal kalimat sabar, namun semua itu tentunya harus diperoleh dengan menambah wawasan kita dengan ilmu. Mengapa dengan ilmu? Karena ilmu adalah pelita yang sangat penting bagi manusia sebagai penerang jalannya.

Rasulullah pun ketika pertama kali mendapat wahyu dari Allah SWT melalui perantaraan Malaikat Jibril a.s. juga diminta untuk berilmu. Ayat yang memerintahkan untuk membaca adalah indikasi bahwa seseorang itu harus membaca, dalam arti yang sangat luas atau sempit sekalipun. Dengan ilmu itu pula kita harus memahami bahwa kesulitan dari Allah tersebut bisa berbuah rahmat dan berkah bukan justru sebaliknya.

Perhatikan petikan hadits yang dikumpulkan oleh Imam at-Tirmizi dan Ibnu Mardawaih yang meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud. Diceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Mintalah kepada Allah anugerah yang Dia miliki. Sesungguhnya Allah suka jika dimintai permohonan. Dan sesungguhnya ibadah yang paling utama adalah menunggu hilangnya kesusahan.”

Sungguh tidak disangka oleh kita bahwa Rasulullah saw menyebut bahwa menunggu hilangnya kesusahan adalah bagian dari ibadah yang paling utama. Meskipun ada fadhilah (keutamaan) dari ibadah yang lain, akan tetapi menunggu hilangnya kesusahan tersebut di atas Rasul masukkan dalam salah satu haditsnya.

Hadits ini bisa sebagai pegangan bagi insan yang sedang dirundung kesusahan. Dengan tetap berikhtiar, berdoa, dan bertawakal pekerjaan menunggu ini sebagai bagian yang tetap bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Sungguh Ar-Rahman dan Ar-Rahimnya Allah SWT, menunggu kesulitan saja dinilai sebuah ibadah, apatah lagi sebuah ibadah mabdhah yang dikerjakan seorang hamba dengan ikhlas dan sesuai sunnah-Nya. Subhanallah tentu akan memuliakan orang yang melakukannya.

Menunggu hilangnya kesusahan baru-baru ini dialami oleh Emir Fadhilah (51 tahun). Pria yang berdomisi di daerah Kreo Ciledug ini sudah makan asam garam kehidupan. Profesinya yang berganti-ganti, dari menjadi sales asuransi di awal tahun delapan puluhan hingga pernah bekerja di salah satu perwakilan bank dunia di Jakarta membuatnya matang. Pernah menjadi orang yang berkecukupan dengan memiliki beberapa rumah dan beberapa kendaraan yang siap menemaninya ke mana pun juga.

Akan tetapi, lazimnya sebuah bisnis ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah. Ketika menggeluti bisnis pembuatan parket (lantai kayu) di Semarang, ia rugi hingga ribuan dolar AS. Mulailah di penghujung tahun sembilan puluhan, ia kehilangan rumah dan kendaraannya. Hidupnya saat itu di rumah berdinding batako yang belum diplester dan jauh dari kenyamanan yang sempat dinikmati sebelumnya. Rumahnya yang besar dijual.

Akan tetapi, kesabaran dan keistiqamahannya dalam menjalani ibadah setelah kurang lebih empat belas tahun mulai membuahkan hasil.  Pria berkacamata ini rajin menjalankan shalat jamaah di masjid, rutin bersujud kala matahari sepenggalah (baca: shalat dhuha), hampir tidak pernah meninggalkan sunnah rawatib, shaum senin-kamis, dan selalu berprasangka baik kepada Allah SWT. Di awal tahun 2013 ini, upayanya didengar Allah.

Perlahan bisnis yang dikerjakannya bergerak naik. Ia mendapat pesanan rutin sapi dari Bali dari beberapa pembeli besar di Jabodetabek. Hingga per Februari ini ia harus bolak-balik ke Bali untuk mengurus bisnis barunya tersebut.

Pesanan utuk mengirim tenaga kerja dari perusahaan kontraktor dari Korea Selatan juga sudah menantinya. Rumahnya yang katanya seperti kandang sapi, kini ada orang yang berbaik hati membangunkan dari nol. Dirubuhkan kemudian dibangun dua lantai dengan gaya minimalis modern. Utang-utangnya dengan orang, ditutupi oleh orang yang berbaik hati tersebut. Anak-anaknya yang sedang kuliah di salah satu PTN terkemuka pun mendapat kiriman uang dan bisa membayar kuliah dan kost yang jumlahnya jutaan rupiah.

D. Supriyanto JN.