JAKARTA, Petajatim.id, Banyaknya tayangan televisi yang tidak sesuai dengan kultur budaya bangsa, yang saat ini ditayangkan hampir di semua televisi swasta nasional, cenderung tidak memberi edukasi yang baik bagi masyarakat, terutama anak-anak.

Tayangan sinetron dengan jalan cerita yang tidak proporsional, tayangan infotainment, talk show, maupun tayangan iklan yang tidak sesuai fakta dan menyesatkan, bisa berakibat buruk pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tidak peka terhadap carut marutnya tayangan maupun program televisi tersebut, dan seolah tutup mata.

Sikap keprihatinan tersebut disampaikan Ketua Umum Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Suriyanto PD, SH, MH, M.Kn, kepada Petajatim.id, Sabtu, 23/09/2017, dini hari.

Sebagai Ketua Umum organisasi profesi, dirinya merasa prihatin terhadap tayangan-tayangan televisi, yang tidak mampu memberi edukasi yang baik, sesuai kultur budaya luhur bangsa Indonesia.

“ Kita pantas gelisah, dengan situasi bangsa saat ini. Tayangan televisi, harusnya mampu meredam kegelisahan masyarakat di tengah hilangnya rujukan nilai. KPI harusnya memberi teguran keras, atau bila perlu stop program-program yang tidak mendidik. Tayangan infotainment yang tidak peka terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat, pamer kekayaan, membudayakan gibah dengan menyebar aib orang lain, sinetron, maupun informasi-informasi yang tidak berimbang. Ini yang merusak, tapi lolos dari perhatian KPI,” kata Suriyanto.

Bila hal tersebut tetap dibiarkan, lanjut Suriyanto, bangsa yang besar dengan keluhuran budayanya ini, lambat laun akan tenggelam. Artinya, sebagai anak bangsa, kita sudah menjadi generasi yang durhaka pada leluhur, juga pada pendiri Republik ini.

Suriyanto, juga mengkritisi terkait menjamurnya iklan, baik iklan komersil maupun layanan masyarakat yang tidak proporsional.

“ Menjamurnya iklan yang tidak sesuai fakta, turut menyumbang terhadap merosotnya moral bangsa, hilangnya nasionalisme, dan tidak memberi ruang terhadap anak bangsa untuk tumbuh dan berkembang. Contoh, perusahaan properti raksasa, belum ada ijin, baik ijin prinsip maupun amdal, tapi sudah melakukan kegiatan pemasaran secara gila-gilaan. Iklan gila-gilaan di media cetak, online, maupun elektronik dan tidak sesuai fakta. Ini juga luput dari KPI,” tegas Suriyanto.

KPI harus berbenah diri, harus berpihak pada kepentingan masyarakat. Tugas suci yang harus diemban KPI, adalah menyelamatkan anak bangsa dari tayangan-tayangan yang menyesatkan.

KPI harus menegur dan menindak stasiun televisi, yang menayangkan acara-acara yang mengumbar kekerasan, percintaan dan tidak ramah terhadap anak-anak.

“ KPI sebagai lembaga yang berwenang, harus lebih proaktif, jangan menunggu aduan dari masyarakat baru bergerak, baru mememberi peringatan, tidak memberi efek jera. Lalu apa tugas KPI ?” tuturnya.

Penulis                             : D. Supriyanto Joko JN