JAKARTA, Petajatim.id. Jelang Pilgub Jawa Timur, publik dikejutkan beredarnya foto seronok yang diduga mirip bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.

Beredar kabar, Abdullah Azwar Anas mengundurkan diri dari pencalonan tersebut, namun hingga malam ini, belum ada keterangan resmi dari Azwar Anas terkait pengunduran dirinya tersebut.

Mensikapi persoalan isu tak sedap tersebut, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menyerahkan sepenuhnya kepada PDI Perjuangan, terkait calon wakil gubernur yang akan mendampingi Saifullah Yusuf pada pilgub Jatim mendatang.

“ Posisi kami, karena Pak Saifullah Yusuf cagub PKB, maka soal wakil gubernur kami serahkan sepenuhnya menjadi hak PDI-P. Kita tunggu saja, PDI-P seperti apa. Kita akan berproses,” kata Muhaimin Iskandar, di kantor DPP PKB Jakarta, Jumat, 5 Desember 2018, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Ketika disinggung langkah apa yang akan dilakukan PKB, jika kabar mundurnya Azwar Anas benar adanya, Muhaimin enggan berkomentar terlalu jauh. Namun sekali lagi ia menyerahkan keputusan tersebut kepada PDI-P.

“ Itu kewenangan Bu Mega dan PDI-P. Itu menjadi hak pribadi. Kewenangan ada di partai pengusung,” ujarnya

Dikatakan Muhaimin, pada Kamis, 4 Desember kemarin, ia menemui Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarno Putri, untuk membahas kelanjutan koalisi antara PKB dan PDI-P, usai Azwar Anas dikabarkan mundur dari pencalonan sebagai wagub Jatim.

Kedepankan Politik Berbudaya

Mensikapi isu tak sedap terkait beredarnya foto Abdullah Azwar Anas, yang saat ini menjadi viral di media sosial,  Pengamat Politik yang sekaligus Ketua Umum Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Suriyanto PD,  mengatakan, agar elit politik bisa menahan diri, dengan tidak menggulirkan isu-isu yang tidak bertanggung jawab, untuk membunuh karakter orang lain.

Kesantunan dalam politik, kata Suriyanto, harus ditumbuhkan kembali. Sebab, jika membunuh karakter orang lain menjadi senjata untuk mencapai tujuan-tujuan politik, dipastikan bangsa ini akan terus terjerembab dalam pusaran konflik. Jika sudah demikian, rakyat jugalah yang akan menjadi sandera.

“ Elit politik jangan gegabah dengan melontarkan isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Jadikanlah perhelatan pilkada di Jawa Timur ini menjadi festival politik yang berbudaya. Ingat, rakyat sangat berharap lahirnya pemimpin yang memiliki visi kebangsaan, bukan pemimpin rapuh yang lahir dengan cara-cara yang rapuh pula,” kata Suriyanto, di Jakarta, Jumat, 5 Januari 2018.

Suriyanto berharap, agar rakyat diberi ruang untuk dapat memilih pemimpin terbaik, dan kandidat harus memberi ‘ruang’ pembelajaran bagi rakyat untuk menilai siapa calon pemimpinnya, melalui program-program yang ditawarkan.

( Jgd/red )