LANDAK – KALBAR,  Komisi B DPRD Kabupaten Landak Kalbar kembali mengundang rapat pihak managemen perusahaan PT. Wilmar group diruang rapat utama kantor DPRD Landak Selasa (10/4) dengan agenda mendengar penjelasan perusahaan terkait pembagian kebun plasma yang barang tentu bukan persoalan baru. Persoalan pembagian plasma ini juga sering memicu terjadinya konflik antara perusahaan dan petani penyerah lahan.

Dedi Hadiyana selaku Head Plasma Wilmar Kalimantan Barat usai memberikan penjelasan dengan Komisi B DPRD Landak bahwa perusahaan perkebunan sawit yang tergabung di PT. Wilmar group ada Lima perusahaan dengan luasan lahannya yang sudah di garap sekitar 20 ribu hektar lebih. Sampai pada Tahun 2018 ini plasma yang sudah di siapkan 3010 hektar dan sudah melebihi 28 persen dari kebun inti, ” ujar Dedi pada awak media ini.

Menurut Dedi permasalahan yang terjadi ini adalah luasan lahan tidak sebanding dengan pesertanya yang begitu banyak, sehingga perolehan lahan perorangnya kecil. Orangnya banyak, konfliknya juga banyak,” tambahnya.

Selain itu kendala cuaca, atomatis dalam pembangunan kebun jadi terhambat, termasuklah masalah infratruktur yang menjadi hambatan. jalan-jalan yang sudah kita perbaiki, waktu datang hujan besar rusak lagi. Belum lagi permasalahan khusus tenaga kerja panen dan perawatan kebun, selain standar nya sulit terpenuhi tonase biayanya juga besar.

Untuk mengatasi persoalan ini, sebisa mungkin pihak perusahaan bekerja sama dengan pihak pemerintah Kabupaten Landak, pengurus koperasi dan tokoh masyarakat untuk memikirkannya bersama. Target perusahaan Tahun ini bagai mana menyelesaikan kebun-kebun yang selama ini mungkin sebelumnya kita serahkan kepada masyarakat terbengkalai, itu kita perbaiki lagi.

Setelah Tahun ini selesai kita perbaiki, segera diajukan penilaian kebun untuk di konversi. Sebelumnya memang sudah ada penilaian kebun seperti di PT. Daya Landak Plantation (DLP) . Saat dilakukan perbaikan kebun pada saat itu, sempat terjadi konflik di dalam perusahaan, sehingga batal lagi.

Awalnya, di PT. DLP inilah akan di jadikan contoh, ternyata ada konflik di dalam. Kita sudah siap konversi, jadi mundur lagi. Untuk sekarang memang di sana situasi sudah kondusip, pencurianpun sudah mulai bisa kita atasi.

Acara tersebut dihadiri oleh managemen perusahaan Wilmar group diwakili oleh Dedi Hadiyana sebagai Head plasma dan Sardion Hutajulu juga dihadiri Kepala Dinas perkebunan Landak, Alpius, Aswanto, Siswandi dan Apkasindo Landak, Klemen Apui.

Sementara dari Komisi B DPRD Landak,  ketua Komisi B DPRD Landak,  Evi Juvenalis, Mina Dinata, Muhidin dan Abu Isam serta Candra Sunardi.

(Biro Kalbar)