Sampang, Petajatim.id. Di masyarakat, sering kita jumpai seseorang mengkonsumsi obat sebacara berlebihan hanya karena ingin lekas sembuh.

Seperti yang dilakukan Ersad (60), warga Kampung Tabbenah, Desa Gulbung, Kecamatan Pangarengan ini misalnya. Kakek beberapa orang cucu ini, jika sakit kepalanya kambuh, ia menelan obat hingga 10 butir.

Kebiasaan yang membahayakan ini, bila tidak dicegah bisa berakibat fatal terhadap kondisi dirinya sendiri, akan memacu jantung bekerja  lebih cepat dan bisa berdampak pada kematian.

Kemarin, Kamis 30/11/2017, Tim LK3 Trunojoyo, mendatangi rumah Ersad, untuk memberi penjelasan bagaimana mengkonsumsi obat yang benar supaya tidak berdampak buruk

“Kalau sakit kepala, minum obat 10 butir perharinya, kalau sudah minum rasanya badan enak lagi, bisa kerja lagi,” tutur Ersad.

Hampir sama dengan Ersad, warga lainnya, Rosidah (45) pun sering mengkonsumsi obat yang dibelinya dari warung, dengan dosis diluar ketentuan yang dianjurkan. Alasannya, berobat ke mantri terlalu mahal dan jauh.

“Mau ke mantri atau ke dokter untuk periksa jauh dan tidak punya uang, ya lebih baik beli obat di warung, kenyataannya sembuh,” kata Rosidah.

Melihat kondisi ini, Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) Tronojoyo, didampingi tim konseling yang terdiri dari ahli kesehatan dan psikolog, Dinas Sosial (Dinsos) juga Pekerja Sosial (Peksos) melakukan Home Visit.

Anggota Tim LK3 dari tim Profesi Kesehatan, dr. Matlup memberikan penjelasan secara langsung, tentang bahaya dan efek obat jika dikonsumsi tidak wajar.

“Obat tersebut bisa mengakibatkan hipertensi atau stroke, dan kanker hati,” jelas dr. Matlup.

Ia menyarankan kepada warga, apabila sakit hendaknya diperiksa ke rumah sakit, puskesmas,  atau ke petugas kesehatan yang terdekat, agar tidak menimbulkan dampak buruk karena salah minum obat.

(Aj/red)