“Mulai dari satu, mulai dari dirimu”. Kalimat sederhana, namun penuh makna. Kata hati adalah kekuatan yang dipercayakan oleh Allah kepada manusia untuk menunjukkan jalan yang benar kepada mereka. Kata hati mengingatkan manusia akan setan yang ada di dalam jiwa mereka dan segala macam sikap serta tingkah laku yang tidak sesuai dengan Al-Qur`an.

Kata hati mengilhami seseorang cara untuk menyenangkan Allah dan berbuat sesuai dengan ajaran Al-Qur`an. Apa pun kondisinya, seseorang yang mendengarkan suara hatinya akan dapat mencapai keikhlasan. Keikhlasan berarti kemampuan untuk memakai hati nurani seseorang seefektif mungkin. Ini juga berarti seseorang tidak boleh mengabaikan kata hatinya, bahkan di bawah pertentangan pengaruh luar atau nafsu rendahnya.

Karena alasan inilah, seseorang yang berharap untuk mendapatkan keikhlasan, pertama-tama ia harus menentukan apakah ia memakai hati nuraninya dengan baik atau tidak. Jika ia menekan kata hatinya terus-menerus, tidak mendengarkan suaranya, dan secara sengaja menuruti nafsu rendahnya, ia tidak memakai hati nuraninya sesuai dengan Al-Qur`an.

Yang lebih penting lagi, seperti yang disebutkan di dalam Al-Qur`an, “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan alasan-alasannya,” (al-Qiyaamah [75]: 14-15) setiap manusia secara naluri mengetahui bahwa bisikan yang terdengar di telinganya adalah suara hati nuraninya dan juga alasan-alasan yang ia ajukan untuk mengabaikan suara tersebut.

Hati nurani adalah berkah dan karunia bagi kemanusiaan. Sebagaimana diungkapkan oleh Badiuzzaman Said Nursi, “Bahkan, jika pikiran terlena dan menolak hal itu, hati nurani tidak akan pernah melupakan Penciptanya. Bahkan, jika ia menafikan kesadarannya, hati nurani melihat-Nya, memikirkan-Nya, dan berjalan menuju Dia,”  atau “… Sang Pencipta yang memiliki dua jendela dalam setiap hati nurani akan menyebabkan kecerdasan-Nya selalu dimanifestasikan dalam hati manusia.” Hati nurani tidak pernah berada dalam ketidaksadaran, bahkan sewaktu orang tersebut tidak sadar.

Hati nurani seseorang selalu tulus dan jujur, dan tidak pernah menuruti setan, bahkan bila orang tersebut mengikuti setan sekalipun. Singkatnya, seseorang secara disengaja ataupun tidak dapat melakukan kesalahan, tetapi hati nuraninya tidak pernah tersesat dari jalan yang lurus dan tidak pernah melakukan kesalahan.

Bagaimanapun juga, kemampuan seseorang untuk mendengarkan hati nuraninya bisa saja berkurang. Jika seseorang tidak memperhatikan suara hati nurani yang mengajaknya kepada jalan yang lurus dan ia terbiasa menekan suara itu, ia akan melemahkan pengaruh kata hatinya dan akan menyebabkan kemampuannya untuk mendengarkan kata hati itu menjadi tumpul. Meskipun kata hatinya memperingatkan akan seseorang dan mengajaknya untuk melakukan kebenaran, ia tidak lagi akan terpengaruh oleh kata hatinya.

Orang yang demikian tidak lagi merasakan kepedihan hati nuraninya saat ia menghancurkan hukum-hukum Al-Qur`an. Ia bisa melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keridhaan Allah dan mengikuti setan. Ia melakukan perbuatan yang tidak diperbolehkan Al-Qur`an tanpa perhatian sedikit pun. Sebagai contoh, selama masa perang, banyak orang merasakan ketidaknyamanan dan kesulitan yang luar biasa saat mereka melihat perempuan dan anak-anak tak berdaya mati begitu saja. Mereka ingin berbuat sesuatu untuk menolong mereka. Akan tetapi, hari-hari selanjutnya, mereka membaca artikel-artikel yang sama dan melihat pemandangan yang demikian lagi di surah kabar.

Hal ini cenderung menumpulkan hati nurani mereka. Sejak dari itu, berita kematian atau kekejaman tidak lagi memengaruhinya. Ia tidak lagi merasa khawatir dan tidak lagi memperhatikan tanggung jawab apa pun. Perubahan ini jelas menandai tumpulnya hati nuraninya. Meski dalam beberapa hal, ia mungkin saja membicarakan keikhlasan yang murni.

Untuk mendapatkan keikhlasan, yang pertama dan paling utama, seseorang harus memastikan bahwa ia peka terhadap hati nuraninya, sebagaimana yang dituntun oleh Al-Qur`an. Ini hanya mungkin dapat dilakukan melalui rasa takut kepada Allah yang terus ditingkatkan. Seseorang harus menyadari sedalam mungkin bahwa Allah mendengar dan melihatnya, di mana pun dan kapan pun. Ia terus menjaga perbuatannya; dan suatu hari, ia akan mengingat-ingat dan memperhitungkan perbuatan itu. Ia harus berusaha untuk memahami dengan jelas bahwa kematian mungkin datang padanya dalam hitungan waktu.

Selanjutnya, ia melihat dirinya menghitung amalannya di hadapan Allah. Ia mungkin dihadapkan pada pedihya siksa neraka jika ia gagal meningkatkan tingkat akhlaqnya yang ditunjukkan oleh Allah dan gagal menggunakan hati nuraninya dengan sebaik-baiknya. Jika ia berhasil membuat hal-hal penting yang diperintahkan Al-Qur`an ini merasuk ke dalam hatinya, ketumpulan hati nuraninya akan digantikan dengan kepekaan yang penuh kehati-hatian. Hal ini karena kepekaan bisa saja membuatnya berlaku ikhlas dengan mendengarkan suara hati nuraninya, bagaimanapun kondisinya.

(D. Supriyanto JN)