Banyak jalan menuju prestasi. Melalui komitmennya memartabatkan hidup warga, Miftahul Munir, Kepala Desa Dukuhdempok, Jember, diundang untuk berbagi pengalaman di markas PBB di Jenewa, Swiss.

Visi hidup, dan tulus dalam pengabdian, itulah  jalan hidup yang tersemat dalam diri  Miftahul Munir. Meski ia hanya seorang Kepala Desa, namun kegigihan serta komitmen untuk memartabatkan hidup warganya, patut diacungi jempol. Berkat kerja kerasnya, ia bisa duduk sejajar dengan tokoh-tokoh dunia di markas besar Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), di Jenewa, Swiss.

Miftahul Munir, menjadi satu-satunya Kepala Desa yang terpilih mewakili Indonesia, karena memiliki komitmen melindungi warganya yang memilih menjadi buruh migran di berbagai negara. Hatinya tersentak, ketika melihat kondisi faktual, bahwa ada ratusan warganya yang menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Di desa Dukuhdempok, tercatat ada 126 buruh migran yang masih aktif bekerja di luar negeri. Mayoritas warganya, sekitar 65 persen, bekerja sebagai buruh di Malaysia, sedang sisanya bekerja di negara lain seperti Korea maupun Hongkong. Namun mantan buruh migran yang sudah pulang ke desa sekitar 462 orang.

Tak mau menyisakan persoalan bagi warganya yang telah kembali ke desa, maupun yang masih aktif bekerja, Miftah bertekad untuk memberi perlindungan, karena sebagai pemimpin desa, ia tahu betul kondisi warganya, dimana hak-haknya sebagai buruh migran sering dikesampingkan. Melihat kenyataan tersebut, ia bertekad untuk memperkuat perlindungan guna menuntut hak pekerja migran.

Berbekal keyakinanya, Miftah lalu mendirikan lembaga yang diberi nama Pusat Pelayanan Terpadu Desbumi (PPTD). Menurutnya, lembaga ini didirikan sebagai bentuk komitmen kelembagaan. Regulasi tingkat desa, yang lahir karena adanya kesadaran bersama. Bagi Miftah, yang terpenting, dengan didirikannya lembaga tersebut, bisa melindungi secara total para buruh migran asal desa Dukuhdempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

“ Kami memiliki komitmen, memberi advokasi kepada buruh migran asal desa Dukuhdempok yang bermasalah,” kata Miftah.

Untuk memperkuat operasional lembaga yang didirikannya, Miftah mengalokasikan anggaran khusus untuk buruh migran. Meski baru dialokasikan anggarannya tahun 2017, namun rintisannya sudah dimulai sejak tahun 2016.

Bentuk komitmen PPTD, tak hanya dalam bentuk advokasi saja, namun alokasi dana khusus juga diperuntukkan bagi pemberdayaan keluarga yang ditinggal kerja di luar negeri serta mantan TKI yang sudah tidak lagi merantau.

Miftah yakin, dana khusus yang dialokasikan mampu meningkatkan kapasitas hidup buruh migran untuk kesejahteraan keluarganya.

Pak Kades, memang tidak sehebat tokoh-tokoh dunia, namun selama lima hari di Jenewa, 3-7/9/2017,  ia memperoleh pengalaman baru. Ia jadi tahu persis, betapa rumitnya persoalan tentang buruh migran di 27 negara. Pengalaman tersebut, akan menjadi pembelajaran bagi dirinya dan akan diadopsi untuk kepentingan buruh migran, khususnya yang ada di desanya, serta di Kabupaten Jember pada umumnya.

Sebuah prestasi, bisa dimulai dari hal-hal kecil yang sederhana. Dan, dari hal-hal yang sederhana, bila dilakukan dengan hati dan penuh cinta, akan menghasilkan manfaat yang luar biasa.

Pengalamannya yang luar biasa di markas PBB, Jenewa, Swiss, akan ia tularkan kepada para Kades, yang menjadi teman sejawatnya. Itulah oleh-oleh yang bisa mendorong untuk memartabatkan hidup sesama.

Miftahul Munir, sosok sederhana yang mampu membangun prasasti dengan prestasi.

(D. Supriyanto Joko N)