Indonesia adalah negeri luhur yang memiliki keanekaragaman budaya. Kebanggaan kita terhadap Indonesia harusnya lebih mengemuka, dan nasionalisme tertanam dalam hati. Dalam konstruk Indonesia, keanekaragaman tersebut sinergis dengan kebhinekaan dalam Pancasila. Kebhinekaan ini yang menjadi bagian dari Pancasila seharusnya memuat logos (kemampuan berfikir) patos ( semangat hidup ) dan etos (budi pekerti luhur). Fakta menunjukkan, tiga hal yang semestinya padu tersebut, berjalan sendiri-sendiri bahkan sebagian diantaranya nyaris tidak terlihat, terutama soal budi pekerti itu. Ngelus dhodo saya dibuatnya.

Memandang Indonesia dari kacamata budaya, seperti melihat kedua orang tua kita. Konsep orang tua yang saya maksud terbagi pada dua kategori. Pertama, orang tua secara genetik. Kedua orang tua geografis. Sebagian orang tua tidak mengajarkan budaya pada anaknya, sehingga budaya kita bagai nafas yang tersengal.

Perubahan budaya masyarakat terjadi karena banyak hal. Diantaranya, kurangnya kesadaran masyarakat di mana budaya yang berlaku sebenarnya sebagai identitas yang harus terpelihara dan lestari. Disamping itu pola hidup yang tidak terkendali dan tanpa disadari mengikis jati diri. Bahkan,kemajuan teknologi ikut memancing pergeseran budaya,pengaruh asing, dan erosi jati diri dalam berbudaya semakin memperkeruh runtuhnya kerajaan budaya.

Indonesia berada pada posisi silang percaturan era poleksosbudhankam dunia yang sangat rentan pengaruh. Zamrud katulistiwa berada pada garis geografis yang mempegaruhi karakter berbangsa. Di bagian utara terdapat China, India dan Pakistan. Sedangkan di bagian Selatan terdapat Australia. Sementara, rancang bangun negara harus sinergis dengan gerak global negara-negara tersebut.

Tetapi, posisi negara yang strategis ini tidak memanfaatkannya sebagai geografis yang menunjang pembangunan di dalam negeri. Sebaliknya,kandungan alam, iklim dan karakter budaya dalam negeri justru diwarnai dari yang seharusnya mewarnai. Begitu dominannya warna yang masuk ke jagat ini, pada akhirnya warna bangsa yang sebenar-benarnya hari ini tidak terlihat dengan sempurna. Penghuni zamrud ini telah meninggalkan budaya leluhurnya.

Faktor geografi juga muncul sebagai sisi lain dari konsep pembangunan manusia Indonesia. Begitu dahsyatnya proses akulturasi terhadap budaya tradisi, sehingga nilai-nilai luhur tergerus arus globalisasi. Masihkah hal yang seperti itu terus dibiarkan ? Semua berpulang kepada hati nurani kita sebagai bagian dari bangsa ini. Patut kita merenungi dan menyadari bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi budayanya sendiri. Dan esensi budaya adalah pertanggung jawaban dalam kehidupan itu sendiri.

Mari bangga menjadi Indonesia

(D. Supriyanto JN – Pemerhati Budaya / Redaktur Senior Petajatim.id)