JAKARTA,Petajatim.id. Prahara baru mengguncang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pasalnya, dua petinggi lembaga tersebut, terlibat perang dingin, terkait pencemaran nama baik.

Novel Baswedan, penyidik senior KPK, yang saat ini masih menjalani perawatan pasca operasi mata di Singapura, dilaporkan Direktur Penyidikan KPK, Brigjen Aris Budiman, karena pencemaran nama baik.

Aris melaporkan Novel, ke Polda Metro Jaya, dengan nomor laporan LP/3937/VIII/2017/PMJ/Ditkrimsus.  Aris tidak terima dirinya dianggap sebagai Direktur Penyidik KPK tidak memiliki integritas, serta berkinerja buruk sepanjang sejarah. Tudingan tersebut disampaikan Novel melalui email, dan disebar ke sejumlah pegawai KPK.

Merespon laporan Aris tersebut, polisi langsung mengeluarkan Surat Perintah Penydikan (Sprindik) Nomor SP.Sidik/524/VIII/2017/Ditreskrimsus.

Polda Metro Jaya, telah melimpahkan berkas laporan dugaan pencemaran nama baik tersebut, ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta.

Melalui Kasi Penkum Kejati DKI Jakarta, Nirwan Nawawi  menyampaikan, Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) Nomor B/11995/VIII/2017/Datro, tanggal 28 Agustus 2017, telah diterima pada hari Kamis, 31/8/2017.

Nirwan mengatakan, pihaknya akan segera menindaklanjutinya, dengan menunjuk Jaksa untuk meneliti sekaligus memantau proses penyidikan.

“Menindak lanjuti SPDP tersebut, Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, akan menunjuk jaksa peneliti untuk mengikuti dan memantau jalannya penyidikan,” Kata Nirwan, Jumat, 1/9/2017, seperti dikutip okezone.com

Novel Baswedan terancam dijerat Pasal 27, ayat 3, Junto Pasal 45, ayat 3UU ITE, atau Pasal 310 atau 311 KUHP, tentang tindak pidana pencemaran nama baik, atau penghinaan atau fitnah melalui media elektronik.

(Prim/Jok)