SAMPANG, Petajatim.id. Guna mencegah meluasnya penyakit difteri, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Forkopimda, OPD se-Madura mengadakan Sosialisasi Pelaksanaan Outbreak Response Imunization (ORI) Difteri Se-Wilayah Madura, bertempat di Pendopo Bupati Sampang, Senin, 22 januari 2018.

Menurut Gubernur Jawa Timur H. Soekarwo melalui Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Akhmad Sukardi, usai Sosialisasi mengatakan, bahwa di Jawa Timur, penyakit difteri telah masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB).

Untuk itu, perlu adanya penanganan secara serius untuk pencegahannya, diantaranya melalui   imunisasi, agar wabah difteri tidak semakin menular.

“Untuk mencegah meluasnya penularan penyakit difteri, memang pengobatannya sudah bagus lebih dari 96%. Karena dengan pengobatan itu kalau sudah terjadi Difteri lebih mahal dari pada pencegahan. Difteri juga dapat berpotensi menjadi penyakit kejadian luar biasa serta akan menghambat pada kualitas hidup dan pembangunan ekonomi masyarakat,” tuturnya.

Menurut data, kasus Difteri di Pemerintah Provinsi Jawa Timur setiap tahun terus mengalami peningkatan, menurut laporan yang masuk di tahun 2017 sebanyak 460 kasus Difteri yang merenggut 16  korban jiwa. Sedangkan tahun 2016 hanya 320 kasus Difteri.

“Jumlah kasus difteri ini semakin meningkat dalam setiap minggunya karena saking cepatnya menular,” ungkap Sukardi.

Dikatakan Sukardi, di Jawa Timur sendiri,  angka penderita difteri paling banyak  terdapat di Kabupaten Pasuruan, Sampang, Surabaya, Gersik dan Nganjuk.

“Untuk di Madura ada 1 Juta jiwa, dan 200 jiwa harus diimunisasi. Kami berharap Forkopimda, Forokopimka, Ulama, Kades dan Tokoh Masyarakat bisa membantu proses imunisasi yang berada di wilayah Madura,” pungkasnya.

(Aj/Jok)