Sampang, petajatim.id. Pelaku usaha ekonomi mandiri di Kabupaten Sampang terus bertambah. Hal tersebut disebabkan jumlah tenaga kerja yang tidak seimbang dengan sempitnya lapangan kerja formal. Menjadi pelaku usaha ekonomi mandiri ( PKL ) menjadi satu – satunya solusi.

Untuk mengurangi dampak Pedagang Kaki Lima (PKL) akibat berjualan pada tempat – tempat yang tidak semestinya, Pemerintah Kabupaten Sampang, memberi tempat bagi PKL, berjualan di Taman Wijaya Kusuma. Selain tertata dengan baik, diharapkan bisa menjadi pusat kuliner, sebagai salah satu penunjang kegiatan pariwisata.

Upaya Pemerintah Kabupaten Sampang, melokalisir pedagang kaki lima dalam satu kawasan, merujuk pada Peraturan Presiden No. 125, Tahun 2012, tentang Koordinasi Penataan dan Pemberdayaan Pedagang Kaki lima, yang kemudian ditindak lanjuti dengan  diterbitkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 41 Tahun 2012, tentang Pedoman Pemberdayaan dan Penataan Pedagang Kaki Lima.

Dalam Permendagri disebutkan, bahwa tujuan penataan dan pemberdayaan pedagang kaki lima (PKL) adalah untuk memberikan kesempatan berusaha bagi PKL melalui penetapan lokasi sesuai dengan peruntukannya. Menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan usaha PKL menjadi usaha mikro yang tangguh, dan mandiri untuk mewujudkan kota yang bersih, indah, tertib, dan aman dengan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai dan berwawasan lingkungan.

Menurut Pengamat Perkotaan Sungkono Wiryo Dimejo, upaya Pemerintah Kabupaten Sampang menata PKL dalam satu lokasi merupakan kebijakan positif, agar pelaku usaha PKL tidak dipandang sebagai aktifitas ilegal.

“ Penataan pedagang kaki lima di Sampang dalam satu kawasan, di taman wijaya ini, menjadi solusi alternatif untuk lebih memartabatkan mereka, agar tidak dianggap sebagai kegiatan ilegal. Selain itu, dengan penataan yang baik, bisa menjadi salah satu tujuan wisata berbasis kuliner, dimana saat ini tengah dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia. Diperlukan promosi serta kegiatan lain sebagai penunjang, misalnya pentas musik, atau pagelaran seni budaya setiap malam minggu atau hari libur. Ini akan menjadi lebih menarik,” jelas Sungkono.

Sementara itu, Saiful, salah seorang pedagang ayam bakar, merasa bersyukur sejak ia berjualan di Taman Wijaya ini. Selain ada jaminan keamanan karena tidak adanya operasi penertiban, omset jualannya pun lebih meningkat, dibanding sebelum menempati area ini.

Sebelumnya, Saiful dan teman – temannya berdagang di sepanjang trotoar di jalan Wahid Hasyim.

“ Saya berterima kasih, diberi kesempatan bisa menempati area pedagang kaki lima di Taman Wijaya ini. Omset jualan lebih baik dibanding sebelum menempati areal ini, dan tidak khawatir ada operasi penertiban oleh Satpol PP,” kata Saiful.

Dalam upaya memberdayakan Pedagang Kaki Lima,  Pemerintah Kabupaten Sampang, menurut Sungkono, dapat melakukan kerjasama atau kemitraan dengan dunia usaha melalui program Coorporate Social Responsibility (CSR) dalam bentuk penataan dan peremajaan tempat usaha PKL.

Selain itu bisa pula dilakukan dalam bentuk lain seperti pelatihan peningkatan kemampuan berwirausaha, pelatihan dan bantuan permodalan, promosi usaha dan event pada lokasi binaan. Dengan demikian, penataan kawasan perkotaan akan lebih menarik, indah, tertib, bersih dan nyaman.

( Joko )