SURABAYA, Memasuki bulan April 2018, Provinsi Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,18 persen, atau lebih tinggi jika dibandingkan inflasi nasional pada periode yang sama sebesar 0,1 persen. Meski inflasi di Jatim lebih tinggi dari inflasi nasional, tetapi harga berbagai kebutuhan pokok masih cukup terkendali.

Melansir dari laman Diskominfo Jawa Timur, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono, di Surabaya, Rabu (2/5) mengatakan, inflasi April 2018 masih relatif rendah, jika dibandingkan pada bulan yang sama tahun 2017, dimana pada bulan Maret 2017 mengalami deflasi sebesar 0,29 persen.

Dikatakan Teguh, jika dilihat dari trend musiman setiap bulan April dalam sepuluh tahun terakhir ( 2009 – 2018 ) telah terjadi enam kali inflasi dan empat kali deflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada bulan April 2015 sebesar 0,39 persen dan deflasi tertinggi yaitu 0,47 persen, terjadi pada bulan April 2009.

Selama bulan April 2018, dari tujuh kelompok pengeluaran semuanya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi adalah kelompok sandang sebesar 0,30 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami inflasi terendah adalah pendidikan, rekreasi, dan olah raga yakni sebesar, 0,03 persen.

Sementara, komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di bulan April 2018 adalah bawang merah, daging ayam ras, dan bensin. Sedangkan yang memberikan andil deflasi adalah beras, cabai rawit dan bawang putih. Komoditas lain yang juga turut menyumbang inflasi adalah kenaikan harga komoditas bensin, karena terhitung mulai tanggal 24 Maret 2018, pemerintah secara resmi menaikkan harga bahan bakar minyak non subsidi jenis pertalite.

Untuk laju inflasi Jawa Timur pada April 2018  mencapai 1,01 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun atau April 2018 terhadap April 2017 mencapai 3,05 persen. Pada April, kelompok inti mengalami inflasi 0,15 persen, komponen yang diatur Pemerintah mengalami inflasi 0,20 persen, sedangkan komponen yang bergejolak mengalami deflasi 0,31 persen.

( Sam/red )

 

Sumber : Diskominfo Jawa Timur.