Indonesia terkenal dengan keragaman seni. Penduduk Indonesia seperti di Jogja, Bali, Sumatera Barat, dan Sulawesi, banyak terkenal dengan karya seni yang dihasilkan. Potensi kerajinan perhiasan permata Indonesia sangat besar dapat memasuki pasar dunia.

Kerajinan perhiasan permata merupakan produk yang banyak dibeli orang di seluruh Dunia. Namun, di Indonesia, produksi perhiasan permata masih tergolong sangat minim. Padahal, kualitas jiwa seni orang Indonesia sudah terkenal ke seluruh dunia, disamping kaya ragamnya.

Sentra Produksi Kerajinan Perhiasan Permata

Ada 4 Kota di Indonesia yang sudah terkenal dengan kerajinan perhiasan dari perak, seperti Celuk di Bali, Kota Gede di Jogjakarta, Koto Gadang di Agam Sumatera Barat, dan Kendari di Sulawesi Tenggara. Sentra produsen perhiasan silver tersebut dapat di akomodir dengan dukungan pemerintah daerah sekaligus untuk pengembangan UKM Daerah agar dapat menembus pasar internasional.

Harga permata bermacam-macam, tidak selalu mahal dan ini tergantung dengan kualitas. Contohnya batu permata peridot, garnet dan citrine dengan harga ratusan ribu rupiah. Bahkan ada batu permata peridot yang harganya puluhan ribu rupiah per carat jika dibeli secara borongan.

Dengan demikian, para produsen dapat memproduksi perhiasan permata menggunakan perak ataupun emas dan jual kembali dengan harga yang sangat bersaing di pasaran dunia. Sekedar informasi, situs seperti Etsy.Com yang merupakan ‘market-place’ penjualan perhiasan permata, banyak menyediakan perhiasan permata dengan harga jutaan hingga ratusan juta rupiah.

Berdasar pengamatan kami, keuntungan yang di peroleh oleh para pedagang perhiasan permata online di situs tersebut sekitar 100% hingga 1000%. Harga pasaran perhiasan permata memang sangat relative, tergantung kualitas bahan dan cita rasa seni yang ditawarkan. Oleh karena itu, kerajinan perhiasan permata Indonesia dapat menjadi penyeimbang harga di marketplace tersebut.

Potensi Kerajinan Perhiasan Permata di Indonesia

Batu permata dapat berasal dari Negara mana saja. Negara penghasil permata banyak berasal dari Brazil, Srilankan dan Afrika. Sedangkan di Indonesia, hanya ada batu akik, batu permata hanya ada golongan kuarsa, amethyst dan opal.

Batu permata yang sudah dijadikan perhiasan merupakan barang jadi yang memiliki nilai tambah atau ‘value-added’. Jika Indonesia mengimpor batu permata dari negara lain, dan menjual kembali ke seluruh dunia dalam bentuk barang jadi, tentu ini dapat memperkuat kurs Rupiah Indonesia.

Berikut contoh batu permata dengan harga di kisaran Rp. 150rb

Permata Peridot Rp. 140.000

batu peridot harga 140rb

Permata Topaz Rp. 135.000

topaz murah harga 135rb tapi asli

Permata Citrine Rp. 125.000

permata citrine asli harga 125rb

Dengan bermodal Rp. 250.000,- para produsen perhiasan permata sudah dapat memproduksi 1 buah perhiasan permata dalam bentuk cincin menggunakan bahan perak. Berdasar pengamatan kami, untuk cincin permata seperti itu, dijual kembali di pasar lokal dengan harga rata-rata Rp. 750.000 dan di secara internasional dijual kembali di kisaran Rp. 1.5 juta (+/- USD 100).

Untuk perhiasan menggunakan emas dan permata yang kualitas lebih bagus, banyak di jual di marketplace perhiasan dunia pada kisaran Rp. 15 juta. Biaya produksi untuk perhiasan senilai Rp. 15 juta tersebut sekitar setengahnya, atau Rp. 7.5 juta.

Jika setiap bulannya di 4 kota produsen perhiasan tersebut memproduksi sekitar 2500 perhiasan perak dan 250 perhiasan emas, maka kapasitas produksi per bulan adalah 10.000 perhiasan perak dan 1000 perhiasan emas. Total nilai omset yang di targetkan sekitar Rp. 2.5 milyar per bulan dari perhiasan perak dan Rp. 15 milyar dari perhiasan emas menggunakan permata kualitas bagus. Dengan demikian akan terdapat omset Rp. 17.5 milyar per bulan. Per tahun akan terdapat omset Rp. 210 milyar. Tentunya ini akan menghasilkan pajak sekitar Rp. 21 milyar.

Dengan potensi penghasilan pajak yang dapat diterima pemerintah, sudah selayaknya bidang bisnis ini mendapatkan dukungan serius. Lantas apa yang dapat dilakukan pemerintah daerah untuk mendukung kerajinan perhiasan permata di Indonesia ?

Beberapa Dukungan Pemerintah Yang Harus Dilakukan

Produksi perhiasan permata sama halnya dengan perhiasan lainnya, sehingga untuk permesinan dapat dipakai yang sudah ada selama ini. Yang diperlukan dari pemerintah adalah permodalan, edukasi dan pemasaran. Ini dapat dilakukan tanpa perlu mengeluarkan modal atau tanpa menggunakan anggaran belanja daerah. Modalnya hanya niat dan komitmen dari para pejabat daerah untuk meningkatkan kerajinan perhiasan permata Indonesia agar menembus pasar dunia.

Pemerintah daerah bisa menggandeng perusahaan besar untuk menjalankan program peningkatan potensi kerajinan perhiasan permata Indonesia. Contohnya, PT Hartadinata Abadi yang merupakan produsen perhiasan emas terbesar di Indonesia, PT Kapitmas di Bali dan sebagainya, mereka dapat digandeng untuk membina para pengrajin kecil untuk produksi perhiasan permata.

Edukasi dapat dilakukan melalui konsultan perhiasan dan batu permata Indonesia. Ini seperti memberikan edukasi mengenai batu permata dan model perhiasan yang menarik dan laku di pasaran dunia. Setelah itu, perusahaan dapat mengarahkan perusahaan besar tadi untuk membeli dan memasarkan hasil produksi kerajinan perhiasan permata dari para pengrajin yang mengikuti program ini.

Untuk pemasaran hasil produksi perhiasan permata, ada beberapa cara yang dapat dilakukan selain cara diatas:

  • Memberikan pelatihan penjualan perhiasan permata secara online
  • Membuatkan website untuk kelompok pengrajin perhiasan permata
  • Membuat direktori website pada situs pemda untuk kerajinan perhiasan permata
  • Membuat marketplace dan mobilapps untuk promosi hasil kerajinan perhiasan permata
  • Menyelenggarakan pameran kerajinan perhiasan permata di beberapa kota besar
  • Mengikut pameran produk manca negara di beberapa belahan dunia.

Bekraf, sebagai badan kreatif di Indonesia seharusnya dapat terlibat dalam hal ini. Juga SMESCO atau Kementrian Koperasi dan UMKM. Namun ini dapat di sinergikan jika pemerintah daerah sudah menjalankan program tersebut.

Tahap Pelaksanaan Program

Berikut tahapan pelaksanaan program peningkatan potensi kerajinan perhiasan permata di Indonesia.

  • Minggu ke-1: Sosialisasi ke instansi terkait, seperti Bekraf, SMESCO, Kemenko UKM, dinas pajak, Pos Indonesia dan sebagainya.
  • Minggu ke -2: Sosialisasi ke beberapa perusahaan untuk mejaring ‘bapak-angkat’, dan ini dapat memerikan keuntungan pada perusahaan besar tersebut dalam brand positioning secara internasional.
  • Minggu ke-3: Sosialisasi program ke pengrajin sekaligus pendaftaran peserta.
  • Minggu ke-4: Edukasi batu permata
  • Minggu ke-5: Edukasi perhiasan yang laku di pasaran internasional
  • Minggu ke-6: Pelatihan cara pemasaran kerajinan perhiasan ke seluruh dunia secara online
  • Minggu ke-7: Pelatihan cara produksi perhiasan permata yang lebih berkualitas
  • Minggu ke-8: Produksi awal perhiasan permata
  • Minggu ke-9: Perusahaan besar membeli sebagian hasil produksi kerajinan perhiasan permata dan membantu memasarkan secara online.
  • Minggu ke-10: Seleksi permodalan untuk pengembangan para pengrajin kecil yang memiliki potensi dan keseriusan dalam bisnis ini. Dana berasal dari perusahaan besar tersebut.
  • Minggu ke-11: Pameran hasil produksi kerajinan perhiasan permata di beberapa kota besar di Indonesia
  • Minggu ke-12: Road show ke seluruh Dunia dengan membawa brand dari perusahaan besar yang menjadi sponsor selama ini.

Hanya dalam kurun waktu 3 bulan, jika dilakukan secara konsisten maka dapat terealisasi. Oleh karena itu, untuk meningkatkan potensi kerajinan perhiasan permata agar menembus pasar dunia bukan memerlukan modal akan tetapi memerlukan niat dan komitmen dari para pejabat daerah dan pejabat pusat.

Berikut contoh model perhiasan permata yang dapat diproduksi oleh kita bangsa Indonesia untuk pasar Dunia:

Cincin Perak

Permata Citrine Rp. 450.000

kerajinan perhiasan permata citrine Rp 450rb

Cincin Perak

Permata Tanzanite Rp. 1 juta

cincin permata tanzanite Rp 1 juta

Liontin Perak

Batu Bacan Rp. 440.000

liontin bacan Rp 440rb

Pasar perhiasan permata dunia bernilai ribuan triliun per tahunnya. Perputaran terus bertambah seiring pesatnya perkembangan teknologi digital. Jika pemerintah mau mendorong peningkatan produksi kerajinan perhiasan permata dan mengintegrasikannya dengan perusahaan besar, maka Indonesia dapat dikenal sebagai negara pengrajin perhiasan permata terbesar di dunia.

Seperti di Thailand, dimana Raja Thailand memiliki lahan 1 hektar berbentuk mall yang khusus untuk menjual permata dan perhiasan permata.

Pemerintah Indonesia dapat melakukan hal yang sama dengan cara berbeda. Dengan bantuan teknologi digital sebagai sarana pemasaran, produk kerajinan permata Indonesia dapat mendunia lebih cepat berpuluh kali lipat.

Potensi Besar Kerajinan Perhiasan Permata Bukan Isapan Jempol

Berdasar dari pilot project yang dijelaskan diatas, penerimaan pajak dari sentra kerajinan perhiasan permata dapat mencapai Rp. 20 milyar per tahun. Dan jika di tingkatkan 1000x lipat maka negara akan menadapat tambahan penerimaan pajak sebesar Rp. 20 triliun per tahun. Ini bukan isapan jempol, untuk ekspor perhiasan permata senilai Rp. 200 triliun per tahun jika memang mau majukan kerajinan perhiasan permata maka ini dapat tercapai dalam waktu 3 sampai 5 tahun kedepan.

Masyarakat Indonesia lebih memiliki jiwa seni dari negara manapun. Seperti Bali dan Jogja, disana terdapat ribuan seniman yang berkualitas. Hanya saja, mereka menunggu arahan dan kesempatan. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia harus laksanakan program diatas dari sekarang juga.

Terutama untuk produksi perhiasan permata yang exclusive. Di beberapa negara lain seperti Eropa dan Amerika, model cincin kawin terkini adalah memakai permata berkualitas sebagai hiasan utamanya. Dengan bahan emas dan aksen micro setting butiran berlian di sekeliling hiasan utama permata, cincin kawin model seperti itu sedang trend di pasaran dunia.

Jika 1 cincin kawin dapat dijual seharga Rp. 10 juta saja dan jika para pengrajin perhiasan memproduksi 1 juta cincin per tahun saja maka omzet penjualan perhiasan exclusive tersebut dapat mencapai Rp. 10 triliun per tahun. Ini akan menyumbang pajak sebesar Rp. 1 triliun per tahun.

Potensi ini sangat besar untuk ditunda terus menerus. Oleh karena itu, kami mengimbau kepada pemerintah dan instansi terkait agar dapat segera meningkatkan potensi kerajinan perhiasan permata di Indonesia.