Ditengah carut marutnya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang semakin hari semakin jauh dari nilai-nilai kebersamaan dalam bingkai Kebhinekaan, ada baiknya kita kembali merenungi kepada falsafah luhur budaya bangsa kita, yaitu Rukun Agawe Santoso.

Dalam bahasa Jawa ada ungkapan yang sering kita dengar “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”. Rukun akan membuat kita kuat, pertentangan membuat kita bubar.

Saya teringat akan suatu kisah seorang laki-laki tua yang sedih karena anak-anaknya senantiasa berkelahi. Suatu saat laki-laki tua itu mengumpulkan semua anaknya. Ia membawa sapu lidi, lalu dilepas ikatannya. Satu-persatu mereka disuruh mematahkan lidi yang sudah lepas dari ikatan. Tentu saja lidi itu amat mudah dipatahkan. Kemudian si bapak mengikat kembali sapu lidi itu. Tidak ada satupun diantara anaknya yang mampu mematahkan lidi yang kini terikat jadi satu.

Pelajaran yang diperoleh dari ceritera ini adalah “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah”. Bubrah seperti “sapu ilang suhe” (suh: pengikat sapu). Sapu yang kehilangan pengikat akan tercerai berai sekaligus tidak punya kekuatan. Andaikan hal ini terjadi dalam keluarga maka keluarga akan menjadi berantakan.

Setiap manusia pasti mengalami sandungan dalam perjalanan hidupnya. Hanya pribadi bijaksana yang bisa membawa masalah menjadi hikmah dan pembelajaran. Kebersamaan, kerukunan, dan terbangunnya nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, akan membawa perjalanan bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Bagaimana kalau terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara? Dan filosofi tersebut sangat relevan untuk diterapkan, agar kita mampu menjadi bangsa yang besar, kuat, berbudaya dan disegani.

(Jagad/Jok)