SURABAYA, PETAJATIM.ID Potensi bisnis fintech ( financial technology ) di Indonesia masih terbuka lebar. Pemanfaatan teknologi ini, bisa diaplikasikan untuk mengatasi sejumlah persoalan ekonomi.

Di era teknologi digital seperti sekarang ini, pemanfaatan fintech menjadi langkah yang tepat untuk mengatasi persoalan khususnya di sektor ekonomi yang membutuhkan sentuhan teknologi.

Hal itu disampaikan Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia ( ISEI ) Muliaman D. Hadad, saat menyampaikan kuliah umum di STIE Perbanas Surabaya, Sabtu, 18/2/2018.

Dikatakan Muliaman, beberapa persoalan yang membutuhkan sentuhan teknologi financial itu diantaranya, kebutuhan pembiayaan yang mendesak, distribusi pembiayaan yang belum merata serta inklusi keuangan yang masih rendah.

Selain itu, kemampuan ekspor UMKM yang lemah dan upaya peningkatan pengguna teknologi di Indonesia.

“ Ini (Fintech) akan menjadi trigger. Banyak warga yang tidak terlayani perbankan, tapi bisa dilayani perusahaan fintech. Fintech bisa melakukan bridging dan membiayai kontrak-kontrak kerja yang sudah ada,” ungkapnya.

Muliaman menandaskan, fintech menawarkan platform dan bukan lembaga keuangan. Contohnya fintech yang berbasis peer to peer lending. Kemudian terus berkembang, yang sekarang semakin kompleks.

Dikatakannya pula, saat ini ada fintech yang ditunjuk pemerintah untuk menjual sukuk ritel. Artinya, tidak hanya melakukan pembiayaan atau kredit saja,tapi juga sukuk, produk asuransi dan layanan lain.

Diakui, saat ini pemain fintech didominasi oleh pemodal luar negeri. Menurut keterapan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahwa fintech 85 persen boleh dari luar negeri. Saat ini, banyak modal ventura yang masuk untuk membiayai berdirinya fintech.

Meski sekarang banyak pemodal dari luar negeri, namun tren tersebut ke depan akan bergeser. Bukan hanya modal ventura manca negara yang masuk,tetapi juga investor lokal.

 

( Jgd )