Tadi pagi, diantara beceknya pasar, saya turut mengantri untuk dilayani, di lapak ibu – ibu renta penjual ikan.

Disamping saya, ada seorang wanita paruh baya, dan sepertinya istri seorang pejabat. Entah pejabat dari mana. Dengan gaya berkacak pinggang, kaca mata hitam menempel di jidat bak seorang gadis ABG jaman now, tengah menawar ikan.

“Mahal amat, kurangi deh, ikan kayak gini, udah nggak segar, paling ikan kemarin” tawar ibu berambut hasil rebonding itu.

“ Rp 25ribu itu udah pas Bu, krn udah siang, kalo pagi, nggak kurang dr 30ribu” jwb ibu penjual ikan sedikit memelas.

“ Ahhh Rp 20ribu kalo mau, udah sisa-sisajelek begini kok,” tawar si ibu rebonding tak mau kalah.

Mata tua penjual ikan mengerjap pelan, mata tua yang selalu mengundang iba, menatap dagangan nya. Masih bertumpuk. Hari mulai beranjak siang. Sebuah anggukan ia berikan. Menyerah pada keadaan. Hidup, tak memberinya banyak pilihan.

Dan tangan tua keriput itu mulai menyisik ikan. Ujung jarinya melepuh karena terlalu lama terkena air. Beberapa luka terlihat di jari akibat  tertusuk tajamnya duri ikan. Cukuplah sebagai bukti, bahwa  kehidupannya bukanlah kehidupan manis bertabur mawar melati.

“ Duh Gusti, mugiyo diparingi sabar ( Ya Alloh beri hamba kesabaran ),” demikian gumamnya. Guman orang kecil yang menghentak pintu langit .

Saya pun trenyuh melihat peristiwa yang memberi saya pelajaran bagaimana memaknai hidup, bagaimana mengenal cinta kasih, bagaiamana membangun totalitas komunikasi dengan Sang Pencipta, apapun keadaannya.

Kenapa kita sering berbuat kejam terhadap orang yang lemah? Mengapa di sebagian semesta diri, kita begitu puas jika berhasil memenangkan penawaran pada orang- orang yang sudah terseok seok mencari makan ?

Apa yang kita dapat dari hasil menawar? Rp 3 atau Rp 5 ribu?

Akan kaya kah kita dengan uang segitu? TIDAK.

Uang mungkin terkumpul, tapi keberkahan hidup nggak akan didapat. Bisa jadi, saat memasak lupa, lalu gosong dan terbuang, kerugiannya lebih dari Rp 5 ribu. Atau bisa jadi, saat masakan udah matang, anak anak  malah kehilangan selera makan dan minta dibelikan ketoprak atau gado-dgado, sehingga uang yang Rp 5 ribu tadi abis juga. Sudah cape memasak nggak dihargai oleh anggota keluarga.

Akhirnya, pusing pala berby…

Apalagi menawar dengan bahasa yang tidak baik. “Ikan kayak gini, udah nggak segar, ikan kayak gini, sisa-sisa udah jelek begini, dan begono begini lainnya,”

Omongan adalah doa. Setelah deal membeli, bisa jadi ikan itu memang membawa pemakannya menjadi tidak segar, atau ikan itu membawa kejelekan bagi pemakannya. Hati-hati nggih Bu, jaga lisanmu.  Doa ibu menggetarkan langit, kalimat yang buruk pun bisa menggetarkan langit.

Saya sudah bertahun mencoba konsisten menerapkan untuk tidak pernah menawar pedagang kecil, walau harus ditebus dengan perang brontoyudo dengan istri saya. Dikiranya saya gemblung, banyak duit, dan tetek bengek. Namun saya tetap diam dengan omelan istri yang kadang memekakkan telinga.

Dengan  menulis ini, saya bukannya tidak paham dengan konsekuensi, bisa jadi kan banyak yang menilai “Ahh amal baik kok di publikasikan, riya, nggak dapat pahala,”

Baik, soal dapat pahala atau tidak, biarlah menjadi urusan Tuhan. Kalau karena menuliskan hal ini, saya dianggap riya, lantas kehilangan pahala atas hal itu, saya ikhlas. Hanya berharap, semoga tulisan ini mampu membelai banyak hati yang lain, kemudian menjadi konsisten untk tidak pernah lagi menawar ke pedagang kecil.

Mas Bro, Mbak Bro, mari kita mulai, membangun perekonomian pedagang kecil.

Saat kita msh meringkuk di kamar ber AC, jam 3 dini hari, kala tubuh masih dibalut oleh selimut wangi dan dibuai mimpi, ibu tua pedagang ikan itu sudah  berkubang dengan aroma ikan, mengangkat ikan ber-baskom baskom, menyentuh es batu, mengeluarkan isi perut ikan dll. Sungguh bukan kehidupan yg gampang.

Apa ruginya kalau kita melebihkan bayaran, atau minimal, tidak menawar atas harga yg telah dia tetapkan.

Dalam hidup, saya merasakan, selalu diberi kejutan kejutan oleh Tuhan, Sang Pemilik seluruh kerajaan.

Dalam 3 hari ini, karna sibuk kerja, menulis, kadang momong putu, saya nggak sempat upload foto tentang pesanan buku. Dan ketika saya kebingungan harus membayar uang kuliah anak, tiba tiba ada seorang sahabat membantu anak saya dengan mencicil uang kuliah tersebut. Itulah kejutan rizki yang tak diduga duga.

Lagi lagi Tuhan mengirim sayangNya dengan cara tak terduga.

Pertanyaannya, apakah rejeki hebat ini buah doa-doa saya ? Belum tentu.

Ini bisa jadi adalah doa dari ibu si tukang ikan, atau bapak penjual tahu, atau ibu tukang giling bumbu, atau bapak tua penjual pisang, dan lain lain yang pernah bertransaksi jual beli dengan saya.

Saat kita tak menawar, mereka ikhlas bilang “terima kasih”.

.“terima” dan “kasih”. Mereka menerima. Lalu malaikat menerbangkan doa mereka, mengetuk pintu langit dan kita kelimpahan “kasihNya”.

Bukankah sdh jelas, tak ada sekat antara dhuafa dgn Tuhannya, bhw doa kaum dhuafa, doa orang yg papa, adalah doa yg mampu mengetuk pintu langit.

Lantas knp kita mampu memberi kado pada teman yang melahirkan seharga ratusan ribu, atau bahkan jutaan  pd anak teman yang  merayakan ulang taun di mall. Bukankah  mereka sdh kaya, kado-kado ratusan ribu itu mereka bisa membeli sendiri.

Sementara kita begitu berhitung pd mereka yg tlah menggadaikan jam tidur dan tenaga, mereka yg terseret seret oleh arus nasib kejamnya jaman untuk sekedar mencari uang sebagai bekal pelanjut hidup.

Saya  sangat yakin pada seluruh ajaran dalam nilai yg saya imani. Ketika kita memudahkan urusan org, Tuhan akan memudahkan urusan kita. Ketika kita memberi satu, Tuhan akan membalas ratusan kali lipat.

Balasan rejeki tak hanya dlm bentuk materi yg terukur. Bisa dalam bentuk hati yg slalu gembira. Meski sederhana, tapi hati nggak pernah gundah. Nggak pernah grasak grusuk cemas panik sampai menyerobot rejeki orang. Meski pas pasan, tapi makan enak, tidur slalu nyenyak, itu adalah rejeki yg tak terbilang harganya.

Buktikan saja. Jgn sesekali menawar pedagang kecil. Jangan menyulitkan orang lain dengan selalu mudahkan urusan org lain. Jangan habiskan waktu untk tawar menawar sampai alot, simpan wktu dan tenagamu untk hal2 yg lebih bermanfaat.

Waktu buat tawar menawar dipangkas, jadikan itu wktu untk bersujud di kala dhuha, atau untk membaca alquran agar tentram jiwa dan raga.

Soal rejeki, kejarlah dgn cara yg baik. Serahkan hasilnya hanya pada Tuhan semata

Soal menghemat, bukan dengan cara menawar keras pedagang kecil, jgn ditawar, maka Tuhan akan aktif mengisi ‘tabungan’ kita.

Dan kita akan dibuat takjub oleh cara ‘tangan’ Tuhan bekerja.

Akan banyak kejutan cinta dari Yang Kuasa. Yakin se yakin -yakinnya, karna Tuhan, tak pernah sekalipun ingkar janji.

 

( Joko )