Tradisi pembuatan perahu bukti warisan masa lampau hingga kini masih terus berlanjut. Salah satunya di lokasi ini di Desa Ipi, Kecamatan Bungku Tengah, Morowali.

 

PETAJATIM – Pembuatan Kapal Kayu di kalangan masyarakat suku Bungku Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah hingga kini masih terus berlanjut.

Walaupun dari sisi arsitektur mode dan gaya, kapal kayu ini sudah mengalami sedikit pergeseran namun dari sisi tradisi dan warisan pembuatan perahu kayu ini masih bisa bertahan dan belum sepenuhnya bisa tergerus oleh waktu dan perkembangan zaman.

Fakta masih bertahannya tradisi itu sendiri hingga kini masih dapat disaksikan lewat sejumlah karya kreasi yang dapat di lihat di sejumlah lokasi pembuatannya. Salah satunyadi  Ibu Kota Morowali tepatnya di Desa Ipi dan Kelurahan Matano, Kecamatan Bungku Tengah.

Di lokasi ini terdapat sejumlah pengrajin yang hampir saban hari menekuni pekerjaan tersebut.

“ Bikin perahu sudah menjad pekerjaan saya setiap hari. Ini adalah tradisi dan warisan yang kami peroleh dari sejak nenek moyang kami,” jelas Patah (68) seorang pengrajin  perahu kayu kepada Petajatim, Selasa (3/4).

Dari kisah pria baruh baya yang mengaku tinggal di Desa Pongkoilu ini diketahui jika pembuatan perahu kayu tersebut tidak terlepas dari pengaruh saling butuh membutuhkan antar 2 kerajaan berbeda yakni Kerajaan Bungku dan Ternate  yang pada zamannya memang memiliki hubungan dan pertalian satu dengan yang lainnya.

“ Kalau dahulu perahu – perahu di bikin selain untuk melaut juga sebagai sarana penghubung antar dua kerajaan yaitu kerajaan Bungku dan Ternate. Pada zamannya perahu juga di gunakan untuk membawa barang dagangan dan berperang melawan kekuasaan portugal di perairan laut,”  timpalnya.

Dari sejumlah referensi sejarah dan kisah yang didengar langsung dari masyarakat Bungku, asal muasalnya kata Bungku sendiri berasal dari “Tobuguo”,  “Tambuku”, dan “Tombuku” yang di kemudian hari hingga saat ini di sebut dengan  kata “Bungku” yang merujuk ke  sebuah wilayah eks landschap Tambuku / Tombuku (Bungku).

Selanjutnya menurut kisah yang berkembang dahulu kerajaan Bungku diperintah oleh raja – raja yang berasal dari keturunan leluhur yang sama yang di mulai dari raja pertama hingga raja yang ke 13 yang berkarir sebagai raja hingga  saat kemerdekaan Indonesia.

Raja pertama Kerajaan Bungku itu adalah Marhum Sangiang Kinambuka yang namanya saat ini sudah di abadikan sebagai nama lapangan sepak bola yang ada di Ibu Kota Kabupaten Morowali.

Ayah dari Kinambuka ini bernama Sangia Oheo dan ibunya bernama Fengguluri.

Adapun istri dari Sangia Kinambuka adalah Wendoria yang bergelar Apu Boki yakni keturunan yang berasal dari Mokole Lere di Routa.

Sangia Kinambuka mempunyai dua orang saudara, bernama Fengkoila bergelar Sangia I Nato yang memerintah di Kendari sementara Feluo Sangia Felungku memerintah di Kerajaan Luwu Palopo.

Adapun raja-raja (Peapua) yang pernah memerintah di Bungku jika di runtut adalah sebagai berikut. Pertama adalah Pea Pua Sangiang Kinambuka, kedua Pea Pua Papa, ketiga Pea Pua Arsyad dan seterusnya adalah Pea Pua Kolono Surabi,  Pea Pua Kasili Lamboja,  Pea Pua Kasili Syadik, Pea Pua Kasili Baba, Kasili Maloku Tondu Le-Obi 1674, Kasili Ismail Lau Peke memerintah sejak tahun 1886-1907, Abdul Wahab, tahun 1908 –1922,  Achmad Hadie tahun  1925–1930,AbdulRazaktahun 1931 –1937
dan yang terakhir Abddurabbie yang memerintah sejak tahun 1938 hingga tahun 1950.

( Deddy Todongi )