JAKARTA, Sedikitnya 250 orang dari utusan Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Dewa Adat Dayak Kalimantan Tengah, DAD Kalimantan Timur, DAD Kalimantan Utara, DAD Kalimantan Selatan, Gerakan Pemuda Dayak (Gerdayak) Nasional, Gerdayak Kaltim, Gerdayak Kaltara. Gepak (Gerakan Pemuda Dayak) Kalteng dan DPP GPDK Kaltim melakukan aksi unjuk rasa di depan Pengadilan Negeri Jakarta Barat Rabu (11/4).

Orasi unjuk rasa dari forum masyarakat Dayak dan pro Justitia yang dimulai pada pukul 13.00 sampai pukul 16.00 Wib itu dipimpin oleh Sekjen MADN, Yokubus Kumis bersama 9 orang utusan lainya Yakni:

Erika Siluq, Sastiono kesek, Julian Binti, Harisatrio Bartim, Damus, Husor Kubar, Leo Berfang Kutim, Syahrani Pase dan fan Frides Mahaga langsung menemui Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan menyatakan sikap bersama ” hentikan intimidasi, kekerasan dan kriminalisasi terhadap 7 orang yang diduga sebagai pelaku pembakaran sekolah serta bebaskan Yansen Binti atas tuduhan yang tak bernyawa itu.

Berdasarkan uraian sebagai mana dikemukakan di atas pengunjuk rasa menuntut hakim pengadilan negeri Jakarta Barat harus netral, jangan memutuskan perkara karena order.

Hentikan intervensi, intimidasi dan kekerasan yang dilakukan oleh Polri kepada para saksi Yansen Binti. Hukum jangan hanya di pakai oleh penguasa untuk mengkriminalisasi orang yang tidak bersalah.

Hentikan kriminalisasi tokoh Dayak tanpa bukti dan saksi. Hakim harus jujur dan adil memutuskan perkara sesuai fakta persidangan. Bebaskan Yansen Binti dari kriminalisasi dan Yansen Binti adalah tokoh adat Dayak bukan pembakar sekolah.

Dari Sekjen MADN, Yokubus Kumis lewat via Watsapnya menjelaskan sebelumnya telah terjadi insiden pembakaran 8 Sekolah Dasar di Palangkaraya Kalimantan Tengah 2017 lalu.  Berdasarkan kasus diatas, maka pihak Kepolisian setempat melakukan penangkapan pada tahap I (pertama) terhadap beberapa pelaku yang diduga melakukan pembakaran tersebut Pada 1 Agustus 2017.

Kepolisian berhasil menangkap 2 (dua) orang pelaku yaitu OG alias Ogut dan SRY alias Suryansyah dan sudah dijadikan tersangka yang mengaku membakar beberapa sekolah atas perintah HG alias Hendri Gunawan, dengan upah Rp. 500.000 / Sekolah, dan HG kemudian menjadi tersangka/DPO. Tanggal 6 Agustus 2017 IG alias Indra Gunawan berhasil diringkus oleh pihak kepolisian setempat.

Tanggal 7 Agustus 2017, IG alias Indra Gunawan dikatakan oleh pihak Kepolisian adalah orang yang bernama HG alias Hendri Gunawan, namun informasi dilapangan bahwa ketika pemeriksaan tersangka IG alias Indra Gunawan, di Polresta Palangka Raya yang lalu kemudian di pertemukan dengan tersangka SRY, ternyata keduanya (IG maupun SRY mengaku tidak saling mengenal).

Ketika itu pihak Kepolisian ingin melepaskan IG karena dianggap salah target, namun kemudian penanganan kasus diambil alih oleh Polda Kalteng, dan IG sampai sekarang masih menjadi tersangka dan di tahan.

Tanggal 9 Agustus 2017, Kunjungan Kapolri ke Polda Kalteng bersama Wakaba Intel Irjenpol Lucky Herman, Kadensus Irjenpol M Syafi’i, Karo Provost Brigjenpol Redfi Andri, Dirtipidum Brigjenpol Herry R Nahak, dan Kadiv Propam Brigjenpol Marpuani Sarmin.

Dalam kunjungan tersebut, Kapolri menyampaikan bahwa ketiga tersangka akan di tangani oleh Bareskrim Polri untuk pengembangan pemeriksaan lebih lanjut.

Kronologi Penangkapan (kedua) yang diduga Pelaku Pembakaran

Tanggal 21 Agustus 2017, Densus 88 menggerebek Sekretariat Gerdayak Jl. Diponegoro Palangkaraya ( Catatan: Sekretariat tersebut adalah rumah milik Alm. Letkol.Purn. TNI Christofel Binti / Orangtua dari Yansen Binti ).  Pada saat itu, Densus 88 Polri menangkap DY alias Yosef Duya, DD alias Yosef Dadu dan AG alias Ahmad Gozali alias Nora, yang sedang bekerja, juga D dan E (teman mereka) yang kebetulan lewat dan mampir (ngobrol) melihat teman yang bekerja.

Dari hasil penggerebekan tersebut, pihak Kepolisian membawa peralatan dapur (keluarga AG alias Nora yang memang selama ini disuruh tinggal bersama Istri dan dua anaknya dirumah tua tersebut sebagai penjaga rumah) barang barang itu yakni : Jerigen ukuran 5 liter berisi minyak tanah, botol air mineral ukuran 1,5 liter berisi minyak tanah (yang digunakan untuk membakar sampah hasil bongkaran) , serta tiga buah sepeda motor, satu sepeda motor milk AG alias Nora dan 2 sepeda motor lainnya yang kebetulan sedang parkir dalam area penggerebekan.

Setelah Densus 88 meringkus beberapa orang yang diduga tersangka dan membawa barang-barang yang disita. Yansen Binti datang ke lokasi dan memberikan konperensi pers mengenai penangkapan beberapa orang yang bekerja membersihkan halaman rumah orangtuanya tersebut, dengan isi pernyataan :

1.Tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi atas kejahatan yang AG, DY, DD lakukan

2. Menjelaskan bahwa ketiga orang tersebut memang disuruh bekerja/membersihkan  halaman/pekarangan rumah orangtuanya

3. Apabila ketiga orang tersebut  bersalah, silahkan diproses secara hukum yang berlaku

Selain AG, DY dan DD Densus 88 Juga menangkap Yansen Binti serta Sayuti (sopir) setelah mengantar kan Yansen Binti pulang ke rumah, usai konpers, Sayuti di TANGKAP dalam perjalanan pulang ke rumahnya, itu terjadi (antara jam 20.00-21.00 Wib)

Sementara Istri dan keluarga Sayuti baru mengetahui hal tersebut sekitar Tanggal 26 Agustus 2017 ketika Konpers di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta. Termasuk DY, DD, dan AG alias Nora yang sudah jadi tersangka begitu pula SY alias Sayuti.

Malam itu juga semua pelaku yang ditangkap oleh Densus 88 yang diduga atas pembakaran beberapa sekolah tersebut langsung di bawa ke Banjarmasin kemudian ke Jakarta. Sedangkan inisial D dan E dilepaskan.

( Sartiman )