Manusia seringkali diingatkan untuk berbuat kebaikan, karena keseluruhan hidup ini adalah ibadah. Kita tidak bisa lagi berfikir parsial antara kehidupan dunia dan akherat.

Keduanya menjadi hajat yang butuh diseimbangkan sesuai fitrah kehidupan manusia.

Bisa jadi, tambahan usia hingga hari ini menjadi tidak berarti tanpa amalan yang baik, dan  bermanfaat. Sebab, hari esok belum tentu menjadi hak kita lagi.

Tidak ada satu orangpun yang dapat kembali ke masa lalu, mengulang jalan cerita yang baru, untuk lebih baik dari sebelumnya.

Begitupun, tiada yang dapat menambah usia demi kehidupan yang lebih bermakna. Kita, hanya dapat menambahkan makna bagi kehidupan di sisa umur kita.

Prinsip hidup tersebut, yang menjadi kekuatan bagi Yanti Febriana Anggiesta. Berbagai tempaan dan ujian hidup pernah dilaluinya.

Anggie, demikian ia akrab disapa, pernah mengalami masa suram dalam fase perjalanan hidupnya. Ia seakan tak lagi mampu menatap masa depan bersama ketiga buah hatinya, saat mendapati suami tercinta begitu cepat dipanggil Sang Khalik. Namun, ia cepat tersadar dari kubangan duka mendalam sepeninggal sang suami.

“ Saya sempat shock waktu itu. Paginya kita masih sempat, jalan-jalan bersama suami dan anak-anak ke Planetarium Taman Ismail Marzuki. Tapi Allah berkehendak lain,  suami dipanggil menghadapNYA tiba-tiba. Mendapati kabar duka, tentu bukan hal yang menyenangkan, apalagi ditinggal pergi oleh orang yang sangat kita cintai, memberikan duka dan kesedihan mendalam,” kata Anggie lirih.

Sejenak ia terdiam, menghela nafas. Angannya tiba-tiba terbang ke masa lalu, mengenang saat ia bersama ketiga buah hatinya harus merelakan kepergian suami tercinta.

“ Datangnya ajal tidak mungkin ditawar. Kematian, adalah suatu hal yang pasti, sekalipun bagi seseorang yang baik dalam perjalanan hidupnya. Setiap yang berjiwa pasti akan mendapatkan giliran,” ujar Anggie.

Secangkir kopi hangat, kembali menemani obrolan kami. Ibu dari tiga putri Rizki Lestari Rachmadia 15 tahun, Ghea Syifa Amanda, 11 tahun dan Kirana Farsya Diqqah 9 tahun, bukan tipe wanita lemah, yang mudah menyerah pada keadaan.

Helaan nafas, bergulung dengan waktu, hari demi hari, bulan berganti tahun. Ia terus menempa diri. Anggie, ingin mendedikasikan hidupnya untuk ketiga putrinya, keluarga besar, dan orang-orang di sekitarnya.

“Jika kita, manusia, mengimani bahwa kehidupan dunia kelak akan berakhir, rasanya tidak ada kekhawatiran kapan ajal itu tiba. Kecemasan timbul ketika kita tidak punya bekal  amal yang cukup untuk menyambutnya,” ucapnya filosofis.

Dedikasi untuk mengabdikan hidup bagi orang lain itulah, yang mengilhami  Anggie melakukan sesuatu sesuai disiplin ilmu yang dimilikinya.

Fokus pengabdian yang dilakukannya, bagaimana ia bisa berkontribusi secara langsung untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul, memiliki daya saing global dan sanggup menghadapi tantangan jaman.

Saat ini, Indonesia sudah memasuki era masyarakat ekonomi global sehingga kita harus siap berkompetisi dengan negara lain ditengah persaingan bebas seperti sekarang ini. Bila kita tidak mempersiapkan secara matang, bisa dipastikan kita akan tertinggal.

Mempersiapkan sumber daya yang berkualitas, memiliki semangat juang dan inovasi, menjadi keharusan.

“ Pembangunan sumber daya manusia memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan Indonesia yang maju, dan berkeadilan serta mandiri sehingga mampu berdaya saing dalam era globalisasi. Dalam kaitan itu, pembangunan sumber daya manusia harus diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, manajemen serta memeperkokoh iman dan taqwa sesuai kultur yang tumbuh dan berkembang di masyarakat,” tandas Anggie.

Anggie, terus bereksplorasi, melakukan penelitian, bagaimana bisa menciptakan strategi yang tepat untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia.

Berbekal tempaan hidup dari Sang Ayah, seorang perwira Angkatan Darat, ia mendirikan perusahaan yang berfokus pada pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia, PT. Dirga Cahya Abadi Anugrah. Melalui perusahaan yang didirikan sang ayah tersebut, Anggie berhasil menemukan sistem pengembangan SDM yang efektif, yaitu LET. Leadership Endurance Test atau LET tersebut telah diakui dan memperoleh sertifikasi HAKI sebagai hak cipta atas kekayaan intelektual.

Menurutnya, potensi seseorang harus bisa dimunculkan menjadi sebuah kompetensi yang dapat digunakan.

Kinerja karyawan yang menurun, tidak hanya disebabkan oleh kompetensi, kepribadian, dan integritas, melainkan kesalahan dalam menempatkan karyawan tersebut. No one is perfect, yang ada setiap orang adalah pembelajar yang baik. Penentu keberhasilan karyawan mencapai kinerja optimal, adalah kesesuaian pekerjaan dengan kemampuan dan passion mereka, atau dikenal dengan job matching.

“ Salah satu aset bangsa ini adalah Badan Usaha Milik Negara. Sehingga BUMN diharapkan menjadi badan yang secara terus-menerus membangun perekonomian negara. Berdasarkan hal ini, maka BUMN harus di isi dengan formasi karyawan yang “the right man, the right place and the right time”. Namun, yang menjadi tantangan saat ini adalah sulitnya menempatkan seseorang yang sesuai dengan bidang dan kompetensinya. Hasil assessment belum tentu bisa menjawab kebutuhan untuk job matching dan bagaimana mengembangkan karyawan. Di sisi lain seringkali terjadi bias antara hasil assessment dengan kondisi riil di lapangan,” urai Anggie, memberi gambaran dan manfaat Leadership Endurance Test.

Anggie optimis, kelak Leadership Endurance Test, bisa diimplementasikan dalam segala aspek kehidupan, tidak hanya dalam lingkup perusahaan saja, namun bisa diterapkan dalam cakupan yang lebih luas lagi.

Ia berharap dari upaya ini, bisa memberi manfaat kepada orang banyak, untuk perbaikan kualitas hidup, yang pada gilirannya bisa memperbaiki bangsa ini. Dengan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas, Indonesia akan menemukan kembali jati dirinya, sebagai bangsa yang maju, dan bermartabat.

Itulah nilai ibadah, yang menurutnya merupakan salah satu dimensi yang diperlukan untuk menambah makna hidup. Oleh karena itu, setiap aktifitas kita niatkan semata-mata sebagai wujud bakti kepada Sang Maha Pencipta.

Tidak ada yang tahu, aktifitas yang sederhana sekalipun, dapat menjadi amal kebajikan yang bermakna besar. Layaknya akar, meskipun tidak tampak, ia mampu mengokohkan sebuah batang pohon.

Seutas akar tidak pernah mendapat pujian, tetapi kehadirannya sangat bermakna. Itulah Anggie, sosok yang mampu memberi keteduhan sebagai layaknya akar. Paling tidak, untuk ketiga putrinya, keluarga, dan karyawan-karyawannya di PT. Dirga Cahya Abadi Anugrah.

( D. Supriyanto Joko N)